SULAWESI SELATAN — Jakarta – Industri otomotif Indonesia tengah diramaikan oleh beragam teknologi elektrifikasi. Setelah HEV, PHEV, dan BEV, kini muncul istilah baru yang perlu dipahami konsumen: REEV atau Range-Extended Electric Vehicle. Teknologi ini kerap disalahartikan sebagai hybrid konvensional, padahal prinsip kerjanya berbeda total.
Berdasarkan riset MarketsandMarkets yang dikutip Suara Kalbar, Jumat (4/9/2026), pasar teknologi REEV diproyeksikan tumbuh 17,1 persen per tahun hingga 2030. Pertumbuhan ini didorong oleh kebutuhan solusi transisi di negara-negara dengan infrastruktur pengisian daya publik yang belum merata, termasuk Indonesia.
Bukan Hybrid Biasa, Ini Perbedaan Kunci REEV
Pada mobil hybrid konvensional, mesin bensin dan motor listrik sama-sama bisa menggerakkan roda secara mekanis. REEV mengambil jalan berbeda. Motor listrik menjadi satu-satunya penggerak roda, sementara mesin bensin hanya bertugas sebagai generator penghasil listrik.
Chery J6T CSH yang diperkenalkan di GIIAS 2026 mengusung konsep ini. Mesin 1.5L Turbo di dalamnya tidak pernah secara langsung memutar roda. Energi yang dihasilkan mesin tersebut dialirkan untuk mengisi baterai atau langsung memasok daya ke motor listrik.
Konsekuensinya, karakter berkendara REEV sangat mirip mobil listrik murni. Akselerasi terasa spontan tanpa jeda perpindahan gigi. Chery mengklaim J6T CSH menghasilkan tenaga kombinasi hingga 428 hp dengan torsi 505 Nm, mampu melesat dari 0-100 km/jam dalam 5,5 detik.
Jawaban atas Range Anxiety di Indonesia
Salah satu keunggulan utama REEV adalah kemampuannya memadamkan kekhawatiran kehabisan daya di tengah perjalanan. Chery mengklaim J6T CSH dapat menempuh 144 kilometer murni dengan tenaga listrik. Jika baterai mulai menipis, mesin generator langsung bekerja.
Dengan kombinasi energi listrik dan bahan bakar, jarak tempuh total diklaim mencapai 800 hingga lebih dari 1.000 kilometer tergantung kondisi berkendara. Angka ini menjadi relevan bagi konsumen Indonesia yang kerap melakukan perjalanan antarkota dengan infrastruktur SPKLU yang masih terbatas di sejumlah wilayah.
Fitur Pendukung untuk Medan Berat
Chery J6T CSH tidak hanya unggul dari sisi penggerak. SUV ini dibekali ground clearance 220 milimeter dan kemampuan wading depth hingga 600 milimeter. Artinya, kendaraan sanggup melintasi genangan air cukup dalam tanpa masalah berarti.
Fitur Vehicle-to-Load (V2L) juga tersedia, memungkinkan baterai mobil dipakai untuk memasok listrik ke perangkat elektronik eksternal. Ini nilai tambah untuk aktivitas luar ruangan seperti berkemah. Sistem audio Infinity turut disematkan demi kenyamanan penumpang.
Kehadiran REEV memberi alternatif menarik di pasar otomotif nasional. Konsumen bisa merasakan sensasi mobil listrik tanpa harus bergantung penuh pada ketersediaan stasiun pengisian. Teknologi ini layak dipantau perkembangannya, terutama jika infrastruktur SPKLU di Indonesia belum merata dalam beberapa tahun ke depan.