SULAWESI SELATAN — Pernyataan Presiden Prabowo soal tenggat produksi massal mobil listrik nasional paling lambat tahun 2028 mengulang lagi satu babak dalam industri otomotif Indonesia. Sebelumnya, Kementerian Perindustrian memang buka suara ada proyek mobil nasional untuk menyusul kesuksesan motor listrik produksi massal. Bedanya dengan era-era sebelumnya, proyek ini kali ini digelorakan di tengah pasar yang sudah dibanjiri mobil listrik asal China yang masuk dengan banderol bersaing.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, koordinasi untuk pengembangan mobil nasional ini berjalan intensif. Peran Kementerian Perindustrian masih bersifat mendukung, karena yang mengeluarkan roadmap justru berada di kementerian/lembaga lain. Ada fakta penting yang perlu jadi perhatian: badan pengelola investasi Danantara ikut masuk dalam koordinasi tersebut.
Skala Pabrik Purwakarta-Subang dan Arsitektur Investasinya
Presiden Prabowo menyebut kompleks perakitan di KM 84 jalur Purwakarta-Subang tidak jauh dari lokasi Alva merakit motor listriknya. Pabrik itu disebut akan jadi lokasi produksi, tapi detail teknis seperti kapasitas baterai yang direncanakan (dalam kWh), jarak tempuh per sekali charge (dalam km), atau jenis platform yang dipakai belum disinggung sama sekali.
Satu hal yang patut diamati adalah masuknya Danantara dalam koordinasi. Pola ini mengindikasikan arah pendanaan yang berbeda dari proyek mobil nasional era sebelumnya. Alih-alih mengandalkan APBN langsung, pemerintah tampaknya sedang mengatur struktur investasi yang melibatkan sovereign wealth fund. Ini bisa menjadi jawaban atas masalah klasik proyek mobil nasional sebelumnya yang kerap terhambat di pendanaan riset dan pengembangan ekosistem komponen.
Dukungan DPR: Pasar Domestik Sudah Kebanjiran, Targetnya Ekspor
Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Daulay menyuarakan kegelisahan yang sama dengan publik: Indonesia sudah berpuluh tahun menjadi pasar mobil dan pabrikan Jepang, Korea, maupun Eropa semua ada di sini. Yang menjadi pertanyaan besarnya, kapan industri otomotif lokal bisa berbalik mengekspor kendaraan buatan dalam negeri?
Pernyataan Saleh sangat gamblang soal ambisi tersebut:
"Saya lihat nih Presiden menginginkan kita ini menciptakan industri betul-betul industri otomotif yang kalau bisa bukan hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi memang kita jual ke pasar global."
Target untuk menembus pasar Eropa memang ambisius, tetapi jika menilik standar pasar otomotif Eropa saat ini, tantangannya bukan sekadar berproduksi. Regulasi Euro NCAP soal keselamatan dan standar emisi Euro 7 akan menjadi tembok besar yang harus ditembus oleh pabrikan lokal. Berbeda dengan motor listrik yang bisa lebih mudah menembus pasar global karena regulasinya lebih sederhana.
Mengapa Proyek Kali Ini Bisa Berbeda dari Mobil Nasional Era 90-an?
Pola koordinasi dengan Danantara menjadi pembeda signifikan dibanding proyek mobil nasional di masa lalu yang dikerjakan oleh satu grup swasta dan bergantung pada skema insentif pemerintah. Pelibatan lembaga investasi di awal menunjukkan ada upaya membangun ekosistem keseluruhan (baterai, motor listrik, infrastruktur pengecasan) sebagai satu paket.
Setidaknya, preseden Alva untuk motor listrik nasional menunjukkan bahwa ekosistem EV yang melibatkan pemain lokal layak dipantau. Namun harus diingat: motor listrik dan mobil listrik punya lompatan kompleksitas yang jauh berbeda. Dari sisi keamanan baterai bertegangan tinggi, manajemen termal (thermal management), hingga ketahanan bodi dalam uji tabrakan, semua masih menjadi tanda tanya yang belum terjawab.
Yang Perlu Diperhatikan Pembeli: Pasar Sudah Tidak Sabar Menunggu
Untuk Anda yang sedang menabung puluhan juta rupiah untuk mobil listrik di tahun-tahun mendatang, ada beberapa hal yang lebih realistis untuk dicermati. Pertama, tak ada satu pun nama pabrikan yang disebut resmi dalam proyek ini. Publik diberi tenggat 2028, tapi tidak mendapat transparansi soal siapa yang menggarap, apa platform yang dipakai, atau berapa harga yang ditargetkan.
- Masalah klasik yang belum terjawab: siapa pabrikan yang benar-benar ditugaskan memproduksi dan komitmen jangka panjangnya setelah peluncuran perdana?
- Potensi konflik kepentingan regulasi: jika pemerintah serius membangun ekosistem EV dalam negeri, akan ada godaan besar untuk memberikan proteksi pasar ke produk lokal lewat insentif atau kebijakan yang justru merugikan konsumen.
- Persaingan real-nya sangat keras: tahun 2028 pasar sudah dipenuhi mobil listrik China berbanderol di bawah Rp 300 jutaan dengan jaringan purna jual luas. Mobil nasional harus masuk ke tengah arena itu tanpa alasan "beli karena nasionalisme".
Presiden Prabowo menyebut targetnya paling lambat 2028 untuk produksi besar-besaran. Sebagai konsumen, patut mencatat tenggat ini dengan skeptisisme sehat sampai nama pabrikan, spesifikasi baterai, dan jaminan purna jual diumumkan secara gamblang.