SULAWESI SELATAN — Pelemahan rupiah terjadi di tengah aksi serupa yang melanda hampir seluruh mata uang kawasan. Yen Jepang, baht Thailand, dan won Korea Selatan sama-sama berada di zona merah pada pembukaan perdagangan pagi ini. Kondisi ini menunjukkan tekanan dolar AS masih dominan terhadap pasar keuangan global.
Dua Faktor Utama yang Menekan Rupiah
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut dua faktor utama menjadi pendorong pelemahan rupiah saat ini. Pertama, ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan titik terang. Kedua, investor memilih wait and see menjelang rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang akan diumumkan besok.
"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).
BI: Ada Lonjakan Kebutuhan Valas untuk Bayar Utang dan Dividen
Bank Indonesia (BI) mengakui tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, kebutuhan dolar AS secara musiman meningkat signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Kebutuhan tersebut antara lain untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen perusahaan.
"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan pada Jumat (29/5).
Ia menambahkan, arus masuk dolar AS yang terbatas membuat permintaan valas domestik semakin membebani kurs rupiah. Meski demikian, BI menegaskan komitmennya untuk terus melakukan intervensi di pasar guna menjaga stabilitas.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS pada hari ini. Harga minyak mentah yang mulai menurun bisa menjadi angin segar bagi mata uang Indonesia, mengingat posisi Indonesia sebagai importir minyak.
"Harga minyak yang sudah menurun bisa mendukung rupiah," ujar Lukman.
Apa Arti Pelemahan Ini bagi Masyarakat?
Pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga barang impor, mulai dari bahan baku industri hingga produk elektronik dan obat-obatan. Jika tekanan berlanjut, kenaikan harga tersebut berpotensi mendorong inflasi dalam negeri. Investor juga perlu mencermati pergerakan kurs karena akan mempengaruhi nilai investasi di instrumen berbasis rupiah.
Investasi mengandung risiko.