SULAWESI SELATAN — Pemerintah Indonesia tengah fokus memulihkan kapasitas PLTP Sarulla melalui skema restorasi jangka panjang atau Long Term Restoration Plan tiga tahap. Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi menyatakan pemulihan ini bertujuan mengembalikan kapasitas pembangkitan yang sempat turun.
“Pemerintah juga secara aktif memberikan kepastian bagi investasi lanjutan guna memaksimalkan kapasitas pembangkit,” ujar Eniya dalam keterangan resmi.
PLTP Muaralaboh Unit 2: Target Perkuat Sistem Kelistrikan Sumatera
Proyek kedua yang masuk daftar prioritas adalah PLTP Muaralaboh Unit 2 yang berlokasi di Sumatera Barat. Pembangunan unit ini terus berjalan untuk memperkuat bauran energi bersih dan keandalan sistem kelistrikan Pulau Sumatera.
Selain menambah pasokan listrik, proyek ini diharapkan membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan penggunaan produk dalam negeri (TKDN). PLTP Muaralaboh sebelumnya sudah beroperasi dengan kapasitas terpasang tertentu, dan penambahan Unit 2 akan menggandakan kontribusinya terhadap grid Sumatera.
Komitmen Investasi Teknologi Rendah Karbon
Delegasi Jepang dipimpin langsung oleh Director General for Energy and Environmental Policy ANRE, Shinichi Kihara. Kedua negara menegaskan komitmen untuk memperkuat investasi di sektor teknologi rendah karbon, termasuk panas bumi yang menjadi andalan energi terbarukan Indonesia.
Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, mencapai 24 gigawatt (GW), namun baru sekitar 10 persen yang termanfaatkan. Kerja sama dengan Jepang, yang memiliki pengalaman panjang dalam teknologi geothermal, diharapkan mampu mempercepat realisasi proyek-proyek yang selama ini terhambat masalah pendanaan dan teknis.
Percepatan dua proyek ini menjadi sinyal positif bagi investor bahwa pemerintah serius mengejar target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025. Dengan tambahan kapasitas dari Sarulla dan Muaralaboh Unit 2, pasokan listrik bersih di Sumatera dan sistem kelistrikan nasional akan semakin andal.