MAKASSAR — Mira (bukan nama sebenarnya) meletakkan sikunya di meja kafe di Makassar sambil menggenggam gawai dengan kedua tangan. Jemarinya mengutak-atik layar ponsel, mengandalkan suara fitur pembaca layar untuk mengetahui tampilan. Beberapa menit kemudian, keluhan lirih keluar dari mulutnya.
"Aduh, kenapa Lontara+ tidak bisa dinavigasi pakai TalkBack," ujarnya, mengutip aplikasi pembaca layar yang biasa digunakan difabel netra pada ponsel Android.
Mira adalah perempuan difabel netra yang sejak lulus kuliah fokus mencari informasi lowongan kerja lewat media sosial. Ia mencoba peruntungan di Lontara+, aplikasi layanan publik Kota Makassar, namun terhambat persoalan aksesibilitas.
TalkBack Tidak Bisa Membaca Seluruh Menu Lontara+
Saat pemantauan bersama Mira, fitur TalkBack tidak dapat membaca seluruh tulisan di aplikasi Lontara+ versi 2.3.19. Mira juga kesulitan mengusap layar ke kanan atau kiri untuk berpindah menu.
Kondisi itu membuatnya sulit mengetahui isi layar dan menavigasi aplikasi secara mandiri. "Tidak bisa toh?" ucapnya dalam logat Makassar.
Percobaan berlanjut dengan memilih layanan pariwisata. Pembaca layar tetap tidak berfungsi. Informasi di menu tersebut juga sudah usang, terakhir diperbarui Rabu, 14 Januari 2026.
"Dari sini, sudah bisa dilihat bahwa aplikasi Lontara+ memang tidak aksesibel bagi difabel. Jangankan cari info lowongan kerja, cari informasi layanan saja pemerintah belum menyajikan yang terbaru," kata Mira.
Kelompok Difabel Tidak Dilibatkan Sejak Perancangan
Mira menilai kelompok difabel tidak dilibatkan sejak awal perancangan program. "Seharusnya, aksesibilitas dipikirkan sejak awal saat memulai membuat aplikasi layanan untuk masyarakat. Bukan setelah aplikasi itu dibuat barulah mengundang difabel untuk menguji kelayakannya," keluhnya.
Ia baru-baru ini menghadiri FGD Warga Evaluasi dan Usulan Pengembangan Lontara+ yang digelar Pemkot Makassar pada 31 Agustus 2026.
Bagi Teman Tuli, Layanan Aduan Tertulis Jadi Hambatan
Pengalaman berbeda dialami Ifa (bukan nama sebenarnya), perempuan difabel Tuli. Dalam wawancara via Google Meet pada Minggu (13/09/2026), ia menyampaikan keluhan menggunakan bahasa isyarat yang diterjemahkan juru bahasa isyarat.
Ifa memiliki banyak kritik untuk Pemkot Makassar melalui layanan pengaduan Lontara+. Namun menyampaikannya bukan perkara mudah.
"Aplikasi Lontara+ belum aksesibel. Saya cukup malu untuk membuat kalimat. Karena memang kata-kata saya agak kurang," ujar Ifa melalui juru bahasa isyarat.
Bagi banyak teman Tuli, bahasa isyarat adalah bahasa pertama. Bahasa Indonesia dalam bentuk tulisan menjadi bahasa kedua. Layanan yang hanya menerima aduan tertulis belum tentu mudah diakses oleh mereka.
Ifa khawatir tulisan yang dikirim susah dipahami atau disalahartikan pihak penerima aduan. "Inilah susahnya jika program aplikasi tidak aksesibel. Tidak bisa merangkul kami yang juga punya banyak persoalan untuk disampaikan kepada pemerintah."
Tampilan Menu Sulit Dipahami Difabel Tuli
Ifa menilai tampilan dan menu Lontara+ masih sulit dipahami, khususnya bagi difabel Tuli. Salah satu contohnya ketika mencari informasi layanan bank sampah.
Menu yang tersedia tidak langsung menjelaskan layanan apa yang dapat dipilih, sehingga Ifa harus membuka beberapa bagian untuk memahami fungsinya. Bagi difabel Tuli yang terbiasa menerima informasi secara visual dan sederhana, kondisi ini menyulitkan pencarian layanan.
Ifa mengusulkan adanya pendamping, khususnya juru bahasa isyarat, untuk membantu kelompok Tuli mengakses layanan pengaduan dan informasi di Lontara+.