SULAWESI SELATAN — Danantara memastikan arah investasi ke sektor bioetanol, termasuk opsi membangun pabrik pengolahan, guna menopang ketahanan energi nasional. Langkah ini menyusul keberhasilan program biodiesel B50 yang mampu menghentikan impor sebagian jenis solar.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mengkaji peran investasi dalam mewujudkan ketahanan energi. Salah satu yang dibahas adalah pengembangan bioetanol sebagai campuran bensin. Dony menyampaikan hal itu dalam diskusi yang dikutip Sabtu (3/10/2026).
Menurut Dony, keberhasilan menghentikan impor solar CN48 lewat program biodiesel B50 menjadi pijakan untuk melirik sumber energi alternatif lain. Pemerintah sendiri menargetkan campuran etanol hingga 50 persen (E50), meski akan dimulai secara bertahap dari E20 dalam waktu dekat.
Mengapa Bioetanol Jadi Pilihan
Dony menuturkan, sejumlah negara sudah lebih dulu menerapkan campuran etanol pada bensin, bahkan ada yang mencapai E50. Indonesia, katanya, mulai memikirkan langkah awal dari E20 untuk menuju swasembada energi.
"Nah, untuk bensin ini kan beberapa negara sudah menerapkannya, bahkan ada yang sudah E50. Kita juga, dalam rangka menjadikan negara berswasembada energi, mulai memikirkan langkah awal dari E20 terlebih dahulu," ujar Dony.
Bahan baku etanol terutama berasal dari molase atau tebu. Karena itu, pemerintah akan menggencarkan penanaman tebu sebagai bagian dari transisi energi nasional.
Rencana Bangun Pabrik dan Lahan Dua Juta Hektare
Dony mengamini adanya rencana untuk terlibat langsung dalam pembangunan pabrik pengolahan bioetanol. Tujuannya menghadirkan ekosistem terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari menanam hingga membangun pabrik etanol.
"Ya, termasuk pembangunan pabrik. Mulai dari menanam hingga membangun pabrik etanol. Kami berharap pemerintah dapat menyelesaikan seluruh investasi etanol dalam kurun tiga tahun ke depan," jelas dia.
Pemerintah sendiri berencana menyiapkan lahan hingga dua juta hektare untuk menopang produksi bioetanol di dalam negeri. Hasil produksinya akan digunakan sebagai bahan campuran bensin menuju target E20 hingga E50.
Jalan Panjang Menuju E50
Target E20 hingga E50 menuntut kesiapan dari sisi pasokan bahan baku, kapasitas pabrik, dan infrastruktur distribusi. Danantara menempatkan diri sebagai pemegang peran investasi, termasuk melalui BUMN, untuk menutup kebutuhan pendanaan tersebut.
Jika terealisasi, pengembangan bioetanol berpotensi mengurangi ketergantungan pada impor bensin sekaligus memperkuat rantai nilai tebu di dalam negeri. Namun, tenggat tiga tahun yang disebut Dony menuntut percepatan di semua lini, dari penyiapan lahan hingga operasional pabrik.