Pencarian

Bahaya Kabut Asap untuk Anak: 7 Cara Lindungi Si Kecil dari ISPA

Jumat, 28 Agustus 2026 • 20:22:32 WIB
Bahaya Kabut Asap untuk Anak: 7 Cara Lindungi Si Kecil dari ISPA
Ilustrasi anak menggunakan masker untuk melindungi diri dari paparan kabut asap.

SULAWESI SELATAN — Musim kemarau seringkali membawa masalah baru bagi keluarga di Indonesia: kabut asap. Kondisi ini bukan sekadar mengganggu pemandangan, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan Si Kecil yang saluran pernapasannya masih berkembang.

dr. Eriska, dokter yang berpraktik di Kota Mataram dan RSUD Lombok Utara, mengingatkan bahwa partikel halus dari asap dapat mengiritasi saluran pernapasan anak dan memicu peradangan. "Anak bisa mengalami batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, mengi hingga sesak napas," jelasnya dalam keterangan kepada ANTARA, Jumat (28/8).

Mengapa Anak Lebih Rentan Terkena Dampak Kabut Asap?

Paru-paru dan saluran pernapasan anak masih dalam tahap perkembangan, sehingga belum mampu menyaring polutan seefektif orang dewasa. Selain itu, frekuensi napas anak lebih cepat, yang berarti mereka menghirup udara dan polutan dalam jumlah yang relatif lebih banyak dibandingkan orang dewasa berdasarkan berat badan.

Salah satu komponen asap yang paling diwaspadai adalah particulate matter berukuran 2,5 mikrometer atau PM2.5. Partikel yang sangat kecil ini bisa masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru dan memicu peradangan.

"Bayi dan balita, serta anak dengan penyakit paru, merupakan kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih," tegas dr. Eriska.

Langkah Praktis Melindungi Anak dari Kabut Asap

Kunci utama melindungi anak adalah mengurangi paparan asap. Berikut langkah-langkah yang bisa Ibu lakukan di rumah dan saat beraktivitas:

1. Batasi Aktivitas di Luar Rumah

Saat kualitas udara memburuk, hindari membawa anak keluar rumah, terutama untuk olahraga atau aktivitas fisik berat. Aktivitas fisik membuat anak bernapas lebih cepat, sehingga jumlah polutan yang masuk ke paru-paru meningkat drastis.

2. Tutup Pintu dan Jendela Rumah

Jaga rumah tetap tertutup rapat ketika konsentrasi asap dari luar sedang tinggi. Pastikan juga untuk menghindari sumber asap tambahan di dalam rumah, seperti asap rokok dan pembakaran sampah.

3. Gunakan Masker yang Tepat (Untuk Anak yang Lebih Besar)

Jika anak harus keluar rumah saat kualitas udara buruk, gunakan masker atau respirator yang mampu menyaring partikel halus (seperti N95) dan pastikan terpasang dengan baik. Namun, perlu diingat bahwa masker bukanlah jaminan aman untuk berlama-lama di tengah kabut asap.

4. Jauhkan Bayi dan Balita dari Paparan Asap

Untuk bayi dan anak kecil yang belum bisa menggunakan masker dengan aman dan tepat, perlindungan terbaik adalah menghindarkan mereka dari paparan asap sama sekali. "Pada bayi dan anak kecil yang belum bisa menggunakan masker dengan baik dan aman, perlindungan terbaik adalah menghindarkan mereka dari paparan asap," ujar dr. Eriska.

5. Gunakan Pembersih Udara (Air Purifier)

Untuk membantu menjaga kualitas udara dalam ruangan, gunakan pembersih udara atau air purifier dengan filter HEPA. Alat ini efektif membantu mengurangi konsentrasi partikel halus di dalam rumah.

6. Pastikan Obat Asma Tersedia

Khusus untuk anak dengan asma atau penyakit paru sebelumnya, pastikan obat yang diresepkan dokter selalu tersedia dan digunakan sesuai rencana pengobatan. Paparan asap dapat memicu kekambuhan gejala dengan cepat.

Kapan Harus Segera Membawa Anak ke Dokter?

Orang tua perlu waspada dan mengenali tanda-tanda gangguan pernapasan. Jangan menunggu sampai gejala menjadi parah. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami:

  • Sesak atau kesulitan bernapas
  • Napas cepat
  • Tarikan dinding dada saat bernapas
  • Mengi yang semakin berat
  • Kesulitan makan, minum, atau berbicara akibat sesak
  • Tampak sangat lemas atau mengantuk
  • Bibir atau wajah terlihat kebiruan

"Jangan menunggu sampai anak mengalami sesak berat untuk mencari pertolongan. Kurangi paparannya, jaga kualitas udara di rumah, hindari aktivitas di luar ketika asap pekat, dan segera cari pertolongan bila muncul tanda gangguan pernapasan," pesan dr. Eriska.

Melindungi anak dari kabut asap membutuhkan kewaspadaan ekstra dari orang tua. Dengan langkah pencegahan yang tepat dan pengenalan gejala yang cepat, Ibu bisa membantu menjaga Si Kecil tetap sehat dan aman di tengah kondisi udara yang tidak menentu.

Follow wartamakassar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: m.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks