SULAWESI SELATAN — Nilai rapor yang memuaskan memang membanggakan, tapi itu bukan satu-satunya indikator kesehatan mental anak. Banyak anak yang pandai menyembunyikan kecemasan mereka di balik senyuman dan lembar jawaban yang sempurna, karena takut mengecewakan orang tua atau kehilangan kepercayaan.
Alih-alih hanya fokus pada angka, Bunda perlu jeli membaca perubahan perilaku sehari-hari. Pendiri ConsciousLeap, Sanjay Desai, mengingatkan bahwa tanda-tanda tekanan emosional sering disalahartikan sebagai kebiasaan sementara atau ciri kepribadian. Padahal, mengenalinya sejak awal bisa mencegah stres yang lebih besar di kemudian hari.
1. Terus Mengulang Pekerjaan yang Sudah Cukup Baik
Apakah Si Kecil suka menghapus jawaban berulang kali, menulis ulang PR, atau menolak mengumpulkan tugas karena merasa belum sempurna? Ini bukan sekadar dedikasi, Bunda. Bisa jadi ini adalah perfeksionisme yang berlebihan.
Penelitian menunjukkan anak yang sering dipuji karena "pintar" cenderung takut membuat kesalahan. Mereka mulai percaya bahwa nilai menentukan harga diri mereka. Padahal, kesalahan seharusnya dilihat sebagai bagian dari proses belajar, bukan penentu siapa diri mereka.
2. Sering Mengeluh Sakit Kepala atau Sakit Perut
Tidak semua anak bisa mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Saat cemas atau stres, emosi itu sering muncul dalam bentuk keluhan fisik seperti sakit kepala atau sakit perut.
Perhatikan polanya, Bunda. Jika keluhan ini muncul terutama sebelum ujian, presentasi, atau kegiatan penting di sekolah, dan tidak ditemukan penyebab medis yang jelas, bisa jadi itu adalah sinyal tekanan emosional yang perlu diselidiki lebih lanjut.
3. Tenang di Sekolah tapi Emosional di Rumah
Guru mungkin menggambarkan anak Bunda sebagai murid yang sopan dan berperilaku baik. Namun begitu tiba di rumah, ia berubah menjadi mudah tersinggung, marah, atau menangis tanpa sebab yang jelas.
Para ahli menyebut ini pola yang umum. Anak menghabiskan sepanjang hari menahan emosi dan memenuhi ekspektasi di sekolah. Rumah menjadi satu-satunya tempat yang aman untuk melepaskan semua beban yang dipendam. Jadi, jangan langsung memarahinya, Bunda. Coba tanyakan apa yang sebenarnya ia rasakan sepanjang hari.
4. Merendahkan Diri Sendiri Sebelum Orang Lain Melakukannya
Bercanda dengan menyebut dirinya "bodoh", "tidak becus", atau "tidak cukup baik" mungkin terdengar lucu. Namun, humor yang merendahkan diri sendiri sering menjadi tameng untuk melindungi diri dari kritik orang lain.
Dengan merendahkan diri lebih dulu, anak merasa memiliki kendali atas penilaian orang lain terhadap dirinya. Seiring waktu, lelucon seperti ini bisa mengikis kepercayaan diri dan memperkuat perasaan tidak berharga.
5. Terus Meminta Maaf atau Mencari Kepastian
Anak yang tertekan secara emosional sering merasa bersalah atas hal-hal kecil. Mereka mungkin terus-menerus meminta maaf atau bertanya, "Bunda marah, kan?" atau "Aku sudah cukup baik, kan?" untuk mencari validasi.
Perilaku ini menunjukkan kecemasan berlebih akan penolakan. Anak merasa perlu memastikan bahwa dirinya masih diterima dan dicintai, terlepas dari apa pun yang terjadi.
6. Menarik Diri dari Pergaulan dengan Teman
Jika anak yang dulu ceria kini mulai menghindari waktu bermain dengan teman-temannya, ini perlu diwaspadai. Ia mungkin merasa lelah secara emosional dan tidak punya energi untuk bersosialisasi.
Tekanan akademik yang tinggi membuat anak merasa tidak punya waktu untuk hal-hal yang menyenangkan. Padahal, bermain adalah kebutuhan penting untuk keseimbangan emosi dan perkembangan sosial anak.
7. Menganggap Permainan Seperti Tugas
Anak yang tertekan sering kehilangan spontanitas dan kegembiraan. Bahkan saat bermain, ia terlihat kaku, terlalu serius, atau selalu ingin menang dan menjadi yang terbaik. Permainan yang seharusnya menyenangkan justru terasa seperti beban atau kompetisi yang menegangkan.
Kapan Bunda Perlu Bertindak?
Jika Bunda melihat beberapa ciri di atas, jangan panik. Mulailah dengan membuka komunikasi yang hangat dan tanpa menghakimi. Tanyakan tentang perasaannya, bukan hanya tentang nilai dan tugas sekolahnya.
Apabila gejala seperti sakit fisik, perubahan suasana hati yang ekstrem, atau penarikan diri dari lingkungan terus berlanjut dan mengganggu keseharian, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog anak. Dukungan profesional bisa membantu anak mengelola stres dan kembali menikmati masa kecilnya.