Pencarian

Ciri Anak Tertekan Secara Emosional Meski Nilai Bagus, Kenali 7 Tandanya

Rabu, 26 Agustus 2026 • 16:07:01 WIB
Ciri Anak Tertekan Secara Emosional Meski Nilai Bagus, Kenali 7 Tandanya
Anak menunjukkan nilai rapor memuaskan, namun orang tua diminta jeli membaca perubahan perilaku sebagai tanda tekanan emosional.

SULAWESI SELATAN — Nilai rapor yang memuaskan memang membanggakan, tapi itu bukan satu-satunya indikator kesehatan mental anak. Banyak anak yang pandai menyembunyikan kecemasan mereka di balik senyuman dan lembar jawaban yang sempurna, karena takut mengecewakan orang tua atau kehilangan kepercayaan.

Alih-alih hanya fokus pada angka, Bunda perlu jeli membaca perubahan perilaku sehari-hari. Pendiri ConsciousLeap, Sanjay Desai, mengingatkan bahwa tanda-tanda tekanan emosional sering disalahartikan sebagai kebiasaan sementara atau ciri kepribadian. Padahal, mengenalinya sejak awal bisa mencegah stres yang lebih besar di kemudian hari.

1. Terus Mengulang Pekerjaan yang Sudah Cukup Baik

Apakah Si Kecil suka menghapus jawaban berulang kali, menulis ulang PR, atau menolak mengumpulkan tugas karena merasa belum sempurna? Ini bukan sekadar dedikasi, Bunda. Bisa jadi ini adalah perfeksionisme yang berlebihan.

Penelitian menunjukkan anak yang sering dipuji karena "pintar" cenderung takut membuat kesalahan. Mereka mulai percaya bahwa nilai menentukan harga diri mereka. Padahal, kesalahan seharusnya dilihat sebagai bagian dari proses belajar, bukan penentu siapa diri mereka.

2. Sering Mengeluh Sakit Kepala atau Sakit Perut

Tidak semua anak bisa mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Saat cemas atau stres, emosi itu sering muncul dalam bentuk keluhan fisik seperti sakit kepala atau sakit perut.

Perhatikan polanya, Bunda. Jika keluhan ini muncul terutama sebelum ujian, presentasi, atau kegiatan penting di sekolah, dan tidak ditemukan penyebab medis yang jelas, bisa jadi itu adalah sinyal tekanan emosional yang perlu diselidiki lebih lanjut.

3. Tenang di Sekolah tapi Emosional di Rumah

Guru mungkin menggambarkan anak Bunda sebagai murid yang sopan dan berperilaku baik. Namun begitu tiba di rumah, ia berubah menjadi mudah tersinggung, marah, atau menangis tanpa sebab yang jelas.

Para ahli menyebut ini pola yang umum. Anak menghabiskan sepanjang hari menahan emosi dan memenuhi ekspektasi di sekolah. Rumah menjadi satu-satunya tempat yang aman untuk melepaskan semua beban yang dipendam. Jadi, jangan langsung memarahinya, Bunda. Coba tanyakan apa yang sebenarnya ia rasakan sepanjang hari.

4. Merendahkan Diri Sendiri Sebelum Orang Lain Melakukannya

Bercanda dengan menyebut dirinya "bodoh", "tidak becus", atau "tidak cukup baik" mungkin terdengar lucu. Namun, humor yang merendahkan diri sendiri sering menjadi tameng untuk melindungi diri dari kritik orang lain.

Dengan merendahkan diri lebih dulu, anak merasa memiliki kendali atas penilaian orang lain terhadap dirinya. Seiring waktu, lelucon seperti ini bisa mengikis kepercayaan diri dan memperkuat perasaan tidak berharga.

5. Terus Meminta Maaf atau Mencari Kepastian

Anak yang tertekan secara emosional sering merasa bersalah atas hal-hal kecil. Mereka mungkin terus-menerus meminta maaf atau bertanya, "Bunda marah, kan?" atau "Aku sudah cukup baik, kan?" untuk mencari validasi.

Perilaku ini menunjukkan kecemasan berlebih akan penolakan. Anak merasa perlu memastikan bahwa dirinya masih diterima dan dicintai, terlepas dari apa pun yang terjadi.

6. Menarik Diri dari Pergaulan dengan Teman

Jika anak yang dulu ceria kini mulai menghindari waktu bermain dengan teman-temannya, ini perlu diwaspadai. Ia mungkin merasa lelah secara emosional dan tidak punya energi untuk bersosialisasi.

Tekanan akademik yang tinggi membuat anak merasa tidak punya waktu untuk hal-hal yang menyenangkan. Padahal, bermain adalah kebutuhan penting untuk keseimbangan emosi dan perkembangan sosial anak.

7. Menganggap Permainan Seperti Tugas

Anak yang tertekan sering kehilangan spontanitas dan kegembiraan. Bahkan saat bermain, ia terlihat kaku, terlalu serius, atau selalu ingin menang dan menjadi yang terbaik. Permainan yang seharusnya menyenangkan justru terasa seperti beban atau kompetisi yang menegangkan.

Kapan Bunda Perlu Bertindak?

Jika Bunda melihat beberapa ciri di atas, jangan panik. Mulailah dengan membuka komunikasi yang hangat dan tanpa menghakimi. Tanyakan tentang perasaannya, bukan hanya tentang nilai dan tugas sekolahnya.

Apabila gejala seperti sakit fisik, perubahan suasana hati yang ekstrem, atau penarikan diri dari lingkungan terus berlanjut dan mengganggu keseharian, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog anak. Dukungan profesional bisa membantu anak mengelola stres dan kembali menikmati masa kecilnya.

Follow wartamakassar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks