SULAWESI SELATAN — Startup teknologi Tornyol Systems yang berbasis di Amerika Serikat merilis video demonstrasi perdana drone mikro otonom mereka pada Juli 2026. Dalam rekaman tersebut, drone seberat 40 gram (1,4 ons) berhasil menghantam seekor ngengat yang sedang terbang. Meski target uji cobanya adalah ngengat, perusahaan menegaskan bahwa teknologi ini dirancang khusus untuk memburu nyamuk.
Bagaimana Drone Mikro Ini Bekerja?
Drone Tornyol tidak bekerja sendirian. Sistem ini bergantung pada stasiun pangkalan bernama LeSonar2, sebuah radar sonar bertahap yang dilengkapi 380 mikrofon ponsel pintar dan chip FPGA Artix-7. Kombinasi ini memungkinkan sistem memetakan lingkungan dalam 3D dan mendeteksi pergerakan sekecil 0,1 mm.
Dari data tersebut, drone mampu mengidentifikasi nyamuk melalui pola kepakan sayap yang unik. Perintah dikirim dari PC, yang memanfaatkan "sensor bantuan parkir mobil dan pemrosesan sinyal digital (DSP) cerdas" untuk mengejar dan membunuh nyamuk dalam radius 8 meter (sekitar 26 kaki).
Motivasi di Balik Proyek: Lebih dari Sekadar Gangguan
Dalam manifesto di situs resminya, Tornyol Systems menyebut nyamuk sebagai "salah satu musuh tertua dan terburuk umat manusia." Perusahaan mengklaim nyamuk membunuh lebih dari 700.000 orang setiap tahun — lebih banyak dari seluruh perang yang terjadi saat ini. "Lebih dari 700 juta orang tertular penyakit yang ditularkan nyamuk setiap tahun," tulis perusahaan dalam pernyataan misinya. "Penyakit ini berdampak di banyak negara, termasuk negara Barat, dengan ribuan kasus Virus West Nile di AS saja."
Ambisi perusahaan ini pertama kali terlihat di ajang Hackaday Supercon 2024. Salah satu pendiri Tornyol, Alex Toussaint, saat itu mempresentasikan topik How to Detect (and Kill) Mosquitoes With Off-the-Shelf Electronics. Sejak presentasi awal tersebut, teknologi ini diklaim telah mengalami penyempurnaan dan miniaturisasi signifikan.
Dalam cuitannya, Toussaint mengucapkan selamat kepada tim insinyur yang mengerjakan proyek ini. "Sangat bersemangat mengumumkan pembunuhan udara-ke-udara pertama kami terhadap ngengat terbang oleh drone mikro otonom. Ini adalah langkah besar menuju pemberantasan total nyamuk," tulisnya pada 14 Juli 2026.
Harga, Ketersediaan, dan Rencana ke Depan
Tornyol mengumumkan bahwa dalam beberapa minggu ke depan, sistem akan dijalankan pada perangkat keras tertanam (embedded hardware), menghilangkan kebutuhan akan PC sebagai pengendali. Bagi warga AS yang tertarik, perusahaan menerima deposit yang dapat dikembalikan sebesar 100 dolar AS (sekitar Rp 1,65 juta).
Dua opsi pembayaran tersedia: berlangganan 50 dolar AS per bulan (sekitar Rp 825.000) atau pembayaran penuh satu kali sebesar 1.100 dolar AS (sekitar Rp 18,15 juta) untuk memiliki sistem selamanya. Belum ada informasi mengenai ketersediaan atau rencana ekspansi ke pasar Asia, termasuk Indonesia.
Pembeda dari Solusi Lain
Sebelumnya, teknologi pembasmi nyamuk berbasis kecerdasan buatan (AI) lebih banyak bersifat stasioner atau berbasis darat. Tornyol mengklaim drone mereka menjadi solusi pertama yang mampu melakukan pembunuhan udara-ke-udara secara otonom. Pendekatan ini memungkinkan pengejaran nyamuk di area yang lebih luas dan sulit dijangkau oleh perangkap statis.
Meski hasil uji coba perdana masih menggunakan ngengat, prinsip deteksi melalui tanda kepakan sayap dan algoritma pengejaran diyakini dapat langsung diterapkan pada nyamuk. Jika teknologi ini terbukti efektif dalam skala luas, bukan tidak mungkin gangguan akibat demam berdarah atau malaria di masa depan bisa ditekan secara drastis.