SULAWESI SELATAN — KAI tidak sekadar menunggu tenggat. Sejak beberapa bulan terakhir, perusahaan pelat merah itu menguji ketahanan mesin lokomotif dan genset kereta pembangkit menggunakan campuran B50. Pengawasan dilakukan ketat terhadap stabilitas pembakaran, konsumsi bahan bakar, serta kondisi komponen mesin utama.
“Dari sisi sarana, seluruh lokomotif dan sarana diesel KAI telah siap menerapkan B50 setelah melalui uji terap teknis serta penguatan aspek keselamatan operasional,” ujar Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, dalam keterangan resmi, Kamis (2/7/2026).
Uji Coba Tak Hanya di Lokomotif, Tapi Juga di Kereta Pembangkit
Pengujian tidak hanya menyasar lokomotif penggerak. KAI juga menguji genset pada kereta pembangkit yang menyuplai listrik untuk penerangan dan pendingin ruangan penumpang. Parameter yang dipantau meliputi performa genset, emisi, kondisi filter, dan ketahanan operasi dalam durasi panjang.
Menurut Anne, pengujian pada kereta pembangkit menjadi krusial karena kegagalan di sana langsung berdampak pada kenyamanan penumpang. “Penggunaan B50 membutuhkan kesiapan teknis yang terukur. Karena itu, KAI melakukan pengujian, pemantauan, dan evaluasi agar tetap selaras dengan standar keselamatan operasi,” jelasnya.
Transisi Tiga Bulan dan Buku Panduan Resmi dari ESDM
Kementerian ESDM tidak langsung memukul palu. Pemerintah memberi masa transisi tiga bulan sejak Juli 2026 sebagai ruang penyesuaian, termasuk mengelola stok solar lama yang masih tersisa di depo-depo KAI.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyatakan sektor perkeretaapian menjadi prioritas karena kereta adalah moda transportasi massal paling banyak digunakan masyarakat. “Pelaksanaan B50 harus menyeluruh ke seluruh moda transportasi. Kereta termasuk moda utama yang kita lihat harus memakai B50,” ujarnya saat meninjau uji coba di Pengawas Urusan Kereta (PUK) Lempuyangan, Yogyakarta, Senin (27/4/2026).
Eniya menambahkan, Kementerian ESDM akan menerbitkan buku panduan resmi terkait penanganan dan distribusi B50 setelah seluruh uji coba rampung. Buku itu merangkum hasil pengujian, termasuk tata cara penyimpanan dan pengisian bahan bakar di stasiun.
Dari B35 ke B50: Pengalaman Bertahap Jadi Modal
KAI bukan pemain baru dalam penggunaan biodiesel. Sebelum B50, perusahaan sudah menjalankan operasional dengan campuran B35 dan B40. Pengalaman bertahap itu menjadi modal penting agar transisi ke B50 tidak mengganggu jadwal perjalanan maupun keselamatan.
Mandatori ini berlaku merata, baik untuk kereta api bersubsidi (PSO) maupun non-subsidi. Dengan demikian, seluruh penumpang kereta api di Indonesia menikmati layanan yang sama, tanpa terkecuali, dengan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Langkah KAI ini tidak hanya menjawab arahan pemerintah, tetapi juga memperkuat posisi kereta api sebagai moda transportasi yang lebih hijau di tengah agenda transisi energi nasional.