SULAWESI SELATAN — PAMA, perusahaan kontraktor pertambangan dan produsen energi, tidak hanya bergerak di sektor bisnis. Perusahaan ini juga mulai menyentuh ranah pendidikan dengan menyasar garda terdepan pembentukan karakter: para guru. Melalui pelatihan bertajuk penguatan pendidikan karakter dan pencegahan bullying, PAMA ingin memastikan sekolah benar-benar menjadi tempat yang aman bagi tumbuh kembang anak.
Pelatihan yang digelar selama dua hari itu diikuti oleh guru-guru dari SDN Jatinegara 06, SDN Jatinegara 10, dan SDN Jatinegara 15. Total ada 50 tenaga pendidik yang mendapatkan pembekalan langsung dari para ahli.
Materi Pelatihan: Dari Psikologi Anak hingga Strategi Anti-Bullying
Para peserta tidak hanya diberi teori. Selama dua hari, mereka mengikuti workshop penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang dirancang agar setiap guru bisa menerapkan program anti-bullying sesuai kondisi sekolah masing-masing. Materi yang disampaikan mencakup strategi pembelajaran berbasis karakter, integrasi nilai-nilai anti-perundungan dalam proses belajar mengajar, hingga cara membangun budaya empati di dalam kelas.
PAMA menghadirkan tiga narasumber dari bidang berbeda: Bayu Purnomo sebagai coding dan AI enthusiast, Deceiria Sinaga sebagai psikolog anak, serta Esti Ernawati sebagai trainer pendidikan. Pendekatan interaktif dan berbasis pengalaman digunakan agar para guru tidak sekadar paham konsep, tapi juga bisa langsung mempraktikkannya.
Dampak Langsung: Guru Punya Strategi Baru untuk Cegah Bullying
Perwakilan guru dari SDN Jatinegara 06 mengaku pelatihan ini sangat relevan dengan tantangan yang mereka hadapi sehari-hari. “Pelatihan ini memberikan wawasan baru sekaligus strategi yang dapat langsung diterapkan di kelas. Kami tidak hanya memahami konsep pencegahan bullying, tetapi juga belajar bagaimana membangun komunikasi yang positif dan budaya saling menghargai di antara peserta didik,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (22/6).
Perwakilan Manajemen PAMA menambahkan, perusahaan meyakini setiap anak berhak mendapatkan ruang belajar yang aman dan mendukung tumbuh kembangnya secara optimal. “Melalui pelatihan ini, kami ingin memperkuat kapasitas para guru sebagai garda terdepan dalam menanamkan nilai-nilai karakter, membangun budaya empati, serta menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan,” ungkapnya.
Target ke Depan: Budaya Empati yang Mengakar di Sekolah
PAMA berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada pelatihan dua hari. Perusahaan menargetkan agar nilai-nilai empati, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama bisa tumbuh menjadi budaya yang mengakar di lingkungan sekolah. “Dengan guru sebagai agen perubahan, diharapkan tercipta generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan mampu membangun kehidupan sosial yang harmonis,” pungkas perwakilan Manajemen PAMA.
Langkah PAMA ini menjadi contoh bagaimana perusahaan swasta bisa berperan aktif dalam ekosistem pendidikan, terutama dalam menyikapi isu perundungan yang masih kerap terjadi di lingkungan sekolah Indonesia.