JENEPONTO — Laju penurunan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Jeneponto tercatat sebagai yang tercepat ketiga se-Sulawesi Selatan. Hanya Kepulauan Selayar dan Tana Toraja yang melesat lebih cepat dalam periode yang sama. Data BPS yang dirilis akhir Juni 2026 menunjukkan tren positif ini berbanding lurus dengan pemulihan ekonomi pascapandemi di seluruh provinsi.
Strategi Pemkab: Dari Bansos Tepat Sasaran hingga Penguatan UMKM
Bupati Jeneponto H. Paris Yasir menyebut keberhasilan ini bukan titik akhir. “Alhamdulillah, hasil ini patut disyukuri. Namun bukan berarti selesai — masih harus terus diperkuat,” ujarnya Senin (29/6/2026). Ia menegaskan bahwa penurunan angka kemiskinan ekstrem adalah kerja kolektif antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.
Pemkab Jeneponto mengerahkan lima pilar kebijakan utama untuk menjaga momentum ini:
- Perlindungan sosial yang diperluas jangkauannya
- Pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal
- Penguatan UMKM melalui akses permodalan dan pelatihan
- Peningkatan kualitas tenaga kerja dengan program vokasi
- Penyaluran bantuan sosial yang tepat sasaran
Target Berikutnya: Keluar dari Kemiskinan Ekstrem Secara Berkelanjutan
“Tujuannya agar warga tidak sekadar keluar dari kemiskinan ekstrem, tapi taraf hidupnya makin mantap dan berkelanjutan,” tegas Bupati Paris Yasir. Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa Pemkab tidak akan bergantung pada bansos semata, melainkan mendorong kemandirian ekonomi warga.
Secara umum, BPS mencatat tren penurunan kemiskinan di seluruh Sulawesi Selatan beberapa tahun terakhir. Jeneponto menjadi salah satu contoh konkret bagaimana kombinasi kebijakan fiskal dan pendampingan masyarakat mampu mempercepat pengentasan warga dari jurang kemiskinan.