Pencarian

Luka Modric dan Semangat Kroasia yang Tak Pernah Padam: Dari Anak Pengungsi ke Legenda Real Madrid

Kamis, 18 Juni 2026 • 01:12:31 WIB
Luka Modric dan Semangat Kroasia yang Tak Pernah Padam: Dari Anak Pengungsi ke Legenda Real Madrid
Luka Modric menunjukkan semangat juang Kroasia yang tak tergoyahkan di Piala Dunia 2026.

SULAWESI SELATAN — Kroasia, negara berpenduduk kurang dari empat juta jiwa, kembali menunjukkan taringnya di panggung sepak bola dunia. Menghadapi Inggris di laga pertama Grup D Piala Dunia 2026, pasukan Zlatko Dalic tidak hanya membawa ambisi, tetapi juga warisan semangat yang dibangun sejak konflik Balkan di era 1990-an.

Dari Hotel Pengungsian ke Santiago Bernabéu

Modric kecil kehilangan kakeknya yang dibunuh pasukan Serbia di dekat rumahnya di kaki Pegunungan Velebit. Rumah keluarganya dibakar. Ia bersama keluarganya terpaksa mengungsi ke Zadar dan tinggal di hotel-hotel, tempat ia bermain bola dengan anak-anak lain yang bernasib sama.

Perjalanannya tidak langsung mulus. Romeo Jozak, mantan pelatihnya di tim muda Dinamo Zagreb, mengakui Modric bukanlah prospek terbaik saat itu. "Dia pendek dan kurus. Mana mungkin bilang orang ini akan mendominasi dunia?" kenang Jozak.

Obsesi Rambut dan Tekad Seperti Anjing Petarung

Yang membuat Jozak frustrasi justru obsesi Modric pada rambut panjangnya. "Setiap kali dia mengoper, rambutnya kebetulan. Saya sampai bertengkar dengannya," kata Jozak. Akhirnya Modric memotong rambutnya, meski kini rambut ikoniknya tumbuh kembali.

Dinamo meminjamkan Modric ke Bosnia dan Inter Zapresic untuk mengasah ketangguhan. "Dia seperti bull terrier—ingin merobek setiap tekel yang dihadapinya," tambah Jozak. Mental baja itulah yang membawanya bertahan di Real Madrid selama 13 musim.

Warisan Perang yang Membentuk Karakter

Bagi Jozak, trauma perang tidak pernah menjadi motivasi utama, tapi tetap mengalir dalam darah pemain. "Beberapa punya kerabat yang terbunuh dalam perang. Hal-hal itu tetap ada di dalam dirimu. Kau mengeluarkannya saat paling membutuhkan," jelas Jozak.

Kroasia pertama kali diakui FIFA pada 1992 dan UEFA setahun kemudian. Generasi emas pertama—Boban, Suker, Prosinecki—mencapai perempat final Euro 96 dan peringkat ketiga Piala Dunia 1998. Butuh 20 tahun bagi Kroasia untuk melampaui prestasi itu dengan menembus final 2018.

Kunci Laga: Gelandang Berpengalaman vs Energi Muda

Di usianya yang ke-40, Modric tetap menjadi poros permainan Kroasia. Bersama Mateo Kovacic dan Marcelo Brozovic, lini tengah Kroasia diyakini mampu mengimbangi pressing tinggi Inggris. Satu hal yang pasti: semangat "negara kecil" ini belum pernah padam sejak pertama kali melangkah ke panggung dunia.

Bagikan
Sumber: bbc.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks