SULAWESI SELATAN — Peristiwa itu bermula saat BNW, warga Desa Beji, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, memasuki wahana pada pukul 14.30 WIB. Ia keluar dengan berlari bersama pengunjung lain dalam kondisi ketakutan sekitar lima menit kemudian.
"Sekitar lima menit kemudian korban keluar dari wahana, kemudian duduk sesaat di kursi di dekat pintu," ujar Kasihumas Polres Tulungagung, Iptu Nanang Murdiyanto, Kamis (30/7).
Kronologi Kejadian dan Dugaan Penyebab Kematian
Korban sempat berdiri dari kursi, namun tiba-tiba ambruk. Kepalanya diduga keras membentur kursi di dekatnya. Petugas wahana yang berada di lokasi langsung memberikan pertolongan pertama, tetapi nyawa BNW tidak tertolong.
"Peristiwa itu kemudian dilaporkan ke polisi dan tim medis. Dari proses pemeriksaan korban dipastikan sudah meninggal dunia," jelas Nanang.
Hasil visum luar menunjukkan adanya luka di pelipis kiri dan gigi patah akibat benturan saat terjatuh. Nanang menegaskan, pihaknya tidak menemukan kejanggalan atas kematian korban. Fokus penyelidikan kini diarahkan pada riwayat kesehatan korban yang disebut memiliki hipertensi.
Riwayat Hipertensi dan Keluhan Kesehatan Sebelum Meninggal
Informasi dari ibu kandung korban mengungkapkan bahwa BNW memiliki riwayat tekanan darah tinggi. Kondisi itu sempat terdeteksi saat menjalani pemeriksaan kesehatan pra-keberangkatan ibadah haji.
Nanang menambahkan, selama berada di Tanah Suci, korban beberapa kali pingsan. Sepulang dari ibadah haji, keluhan serupa kerap muncul ketika korban terkejut oleh suara keras.
"Menurut keterangan ibu kandungnya, saat haji korban pernah pingsan cukup lama. Setelah pulang juga kalau mendengar suara keras, misalnya knalpot atau motor digas, sering merasa berdebar," kata Pamapta Polres Tulungagung, Ipda Hendra.
Kondisi medis inilah yang kemudian menjadi dasar dugaan sementara bahwa lonjakan adrenalin akibat ketakutan di dalam wahana memicu komplikasi pada jantung atau tekanan darah korban.
Status Penutupan Wahana dan Langkah Polisi
Kapolsek Tulungagung Kota, Kompol Puji Hartanto, memastikan wahana rumah hantu di Apollo Supermall masih disegel. Penutupan dilakukan sejak Rabu malam untuk kepentingan penyelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi di lokasi.
"Masih kami tutup sementara itu untuk proses penyelidikan," kata Puji.
Polisi masih mendalami standar operasional wahana, termasuk apakah ada prosedur pemeriksaan kesehatan bagi pengunjung atau peringatan risiko bagi penyandang penyakit tertentu. Hingga berita ini diturunkan, manajemen Apollo Supermall Tulungagung belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut.