Pencarian

Petenis Ukraina Oliynykova Kecam Keras Rekan Rusia Usai Tersingkir di Prancis Terbuka

Minggu, 31 Mei 2026 • 02:25:01 WIB
Petenis Ukraina Oliynykova Kecam Keras Rekan Rusia Usai Tersingkir di Prancis Terbuka
Oleksandra Oliynykova menyampaikan kecaman terhadap petenis Rusia usai tersingkir di Roland Garros.

SULAWESI SELATAN — Kekalahan 7-5, 6-1 dari Diana Shnaider di Roland Garros tak membuat Oleksandra Oliynykova memilih diam. Petenis berusia 25 tahun itu justru membuka sesi wawancara dengan membacakan pernyataan resmi dari ponselnya, mengecam para petenis Rusia yang tak kunjung menyuarakan penolakan terhadap perang.

“Ini Soal Kemanusiaan, Bukan Politik”

“Saya tahu beberapa orang lebih memilih saya diam. Tapi apa yang saya lakukan bukan soal politik, ini soal kemanusiaan,” ujar Oliynykova dengan nada bergetar. “Ketika orang terbunuh, anak-anak sekarat, dan kekerasan dirayakan, kami tidak bisa berpura-pura tak terjadi apa-apa.”

Sebelum laga, Oliynykova sudah menuduh Shnaider mendukung invasi Vladimir Putin. Tuduhan itu didasari partisipasi Shnaider di turnamen eksibisi Saint Petersburg yang disponsori Gazprom, perusahaan gas milik negara Rusia. “Sama saja seperti bermain di Jerman Nazi untuk perwira Gestapo, di turnamen yang diselenggarakan perusahaan pembangun Auschwitz,” tegasnya.

Shnaider Bungkam, Hanya Bela Diri

Menghadapi atmosfer pertandingan yang tegang, Shnaider menolak bicara soal perang. Ia hanya membela keputusannya bermain di Rusia. “Saya berkeliling sepanjang tahun, tak bertemu keluarga. Satu-satunya kesempatan bermain di depan mereka adalah saat pulang,” kata Shnaider singkat.

Pengamanan ekstra dikerahkan di lapangan kecil terbuka tempat laga berlangsung. Petugas berseragam berjaga di sekeliling tribun. Namun, kedua pemain mengaku tak menyadari peningkatan keamanan tersebut. “Saya tak merasa butuh pengamanan. Orang-orang datang hanya untuk menonton,” ujar Oliynykova.

Hidup di Bawah Bom dan Solidaritas Ukraina

Oliynykova bukan sekadar aktivis di atas kertas. Ayah dan kekasihnya adalah tentara yang bertugas di medan perang. Apartemennya di Kyiv sempat tanpa listrik dan air saat ia berlatih untuk Australia Terbuka Januari lalu. “Pulang nanti, saya akan berbaring di bawah bom. Jika saya diam, untuk apa saya di sini?” katanya.

Solidaritas sesama petenis Ukraina pun bulat. Elina Svitolina, finalis dua kali Wimbledon, dan Marta Kostyuk, juara Madrid Terbuka, disebut Oliynykova memiliki “solidaritas mutlak” terhadap tindakannya. Kostyuk sendiri baru saja bercerita tentang drone yang menghantam gedung 100 meter dari rumah keluarganya di Kyiv.

Tekanan ke WTA: Ambil Tindakan Nyata

Oliynykova terus mendesak Asosiasi Tenis Wanita (WTA) untuk menjatuhkan sanksi kepada pemain yang berkompetisi di Rusia. Ia menilai WTA munafik karena tak kunjung bertindak. “Pemain Rusia punya keyakinan mengerikan. Ini tak bisa terus diterima di olahraga profesional,” desaknya.

Menanggapi hal ini, WTA menyatakan tetap “teguh” mengutuk perang Rusia di Ukraina, namun mengakui situasi ini “sangat sensitif”. “Semua atlet WTA punya hak berekspresi. Namun, WTA berkomitmen menjaga lingkungan yang profesional dan saling menghormati bagi semua atlet,” bunyi pernyataan resmi mereka.

Bagikan
Sumber: bbc.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks