MAKASSAR — Tuduhan diskriminasi dalam seleksi Paskibraka di Sulawesi Selatan memicu reaksi cepat dari BPIP. Lembaga tersebut menegaskan tidak ada perlakuan khusus atau pengucilan terhadap peserta dari latar belakang tertentu selama proses seleksi berlangsung.
Isu diskriminasi mencuat setelah sejumlah akun di media sosial mengunggah narasi yang menyebutkan adanya peserta seleksi yang sengaja digugurkan karena alasan etnis dan agama. Narasi itu dengan cepat menyebar dan memicu perdebatan di kalangan warganet Sulawesi Selatan.
BPIP langsung bergerak melakukan klarifikasi. Dalam pernyataan resminya, BPIP menyebut tuduhan tersebut tidak memiliki bukti yang kuat dan hanya didasarkan pada asumsi sepihak. “Tidak ada satu pun peserta yang diperlakukan tidak adil. Semua melalui tahapan yang sama,” demikian pernyataan yang diterima redaksi.
BPIP menjelaskan bahwa seleksi Paskibraka di Sulawesi Selatan dilakukan secara berjenjang dan terbuka. Setiap peserta dinilai berdasarkan kemampuan fisik, wawasan kebangsaan, dan kesehatan. Tim penilai terdiri dari unsur TNI, Polri, dan tenaga profesional di bidangnya.
Tidak ada intervensi dari pihak manapun yang dapat memengaruhi hasil akhir. BPIP juga menegaskan bahwa prinsip Bhinneka Tunggal Ika menjadi pedoman utama dalam setiap tahapan seleksi. “Kami justru mendorong keberagaman sebagai kekuatan,” tambah pernyataan tersebut.
Untuk menghentikan penyebaran informasi yang keliru, BPIP berencana merilis data dan dokumentasi proses seleksi secara lebih transparan. Langkah ini diambil agar publik dapat menilai sendiri objektivitas yang telah dijalankan.
BPIP juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. “Kami akan terus mengawal proses ini hingga pelantikan Paskibraka nanti,” pungkas pernyataan resmi BPIP.