Pencarian

Hujan Ekstrem Landa China, 9 Tewas dan 11 Hilang Akibat Banjir Bandang dan Longsor

Selasa, 26 Mei 2026 • 12:07:01 WIB
Hujan Ekstrem Landa China, 9 Tewas dan 11 Hilang Akibat Banjir Bandang dan Longsor
Tim gabungan terus melakukan pencarian korban banjir bandang dan longsor di China.

SULAWESI SELATAN — Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus dilakukan oleh tim gabungan di sejumlah wilayah yang mengalami kerusakan parah. Kantor berita Xinhua melaporkan, bencana ini dipicu oleh hujan dengan intensitas sangat tinggi yang mengguyur Distrik Yongchuan, Kota Chongqing, dan meluas ke beberapa provinsi lainnya.

Evakuasi Massal dan Kerusakan Infrastruktur

Foto-foto yang beredar dari lokasi kejadian menunjukkan pemukiman warga terkubur lumpur bercampur material banjir. Ekskavator dikerahkan untuk membantu proses evakuasi korban dan membersihkan akses jalan yang terputus. Banyak kota dan kecamatan di wilayah terdampak melaporkan kerusakan infrastruktur yang signifikan.

Pusat Iklim Nasional China mencatat, curah hujan rata-rata sejak awal musim pada 1 April mencapai 110,1 milimeter, atau 18,6 persen di atas normal. Angka ini menunjukkan anomali cuaca yang jauh melampaui rata-rata historis.

Rekor Curah Hujan di 76 Stasiun Meteorologi

Pakar dari Pusat Iklim Nasional, Sun Mingyang, menyebutkan bahwa hujan ekstrem telah meluas di China utara dan selatan. “Sebanyak 76 stasiun meteorologi tingkat nasional mencatat curah hujan harian yang memecahkan rekor,” kata Sun dalam laporan China Daily.

Beberapa rekor tersebut terjadi di Enping, Provinsi Guangdong, dengan curah hujan mencapai 597,7 mm dalam satu hari. Sementara itu, Jingzhou di Provinsi Hubei, Shangyou di Provinsi Jiangxi, dan Guigang di Wilayah Otonom Guangxi Zhuang juga melampaui rekor curah hujan harian mereka.

Penyebab Cuaca Ekstrem: Tekanan Tinggi Subtropis

Ahli meteorologi senior di pusat iklim yang sama, Gao Hui, menjelaskan bahwa curah hujan deras saat ini dipicu oleh kombinasi beberapa sistem atmosfer utama. Tekanan tinggi subtropis Pasifik barat, yang merupakan sistem cuaca utama di Asia Timur, disebutnya tetap luar biasa kuat dan berada lebih jauh ke barat serta utara dari biasanya selama sepekan terakhir.

“Sisi barat sistem tersebut terus-menerus mengangkut udara hangat dan lembap dari samudra tropis ke pedalaman China, yang membantu memicu curah hujan lebat,” jelas Gao. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan, meningkatkan risiko bencana susulan di sejumlah wilayah.

Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks