SINJAI — Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar Andi Muh. Ihsan menyasar langsung kalangan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sinjai. Empat Pilar yang dimaksud meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
Keempatnya disebut sebagai pondasi yang menopang keberlanjutan dan keutuhan bangsa Indonesia. Nilai-nilai di dalamnya dinilai telah terbukti menyatukan keragaman suku, agama, ras, dan antargolongan di seluruh penjuru Nusantara.
Mengapa Mahasiswa Jadi Sasaran Utama Sosialisasi
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa perubahan lanskap sosial-politik yang sangat mendasar. Transformasi digital membuka akses informasi tanpa batas, tetapi sekaligus memunculkan tantangan baru yang kompleks.
Penyebaran disinformasi atau hoaks, ujaran kebencian, polarisasi ideologi, hingga ancaman kejahatan siber menjadi persoalan riil. Nilai-nilai kearifan lokal juga disebut tergerus budaya luar yang masuk tanpa filter.
Mahasiswa dipandang memegang peranan strategis sebagai agen perubahan sekaligus iron stock kepemimpinan masa depan. Kelompok ini mengecap paparan teknologi paling intensif dibanding kelompok lain.
Pendekatan Dogmatis Dinilai Tak Lagi Cukup
Penguatan pemahaman nilai kebangsaan tidak lagi bisa dilakukan secara dogmatis konvensional. Diperlukan langkah reaktualisasi, yakni mengkontekstualisasikan dan membumikan kembali Empat Pilar agar relevan dengan dinamika era digital.
Sebagai wakil daerah di tingkat nasional, anggota DPD/MPR RI memiliki kewajiban konstitusional menyerap, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat. Kelompok mahasiswa menjadi salah satu prioritas dalam penyerapan aspirasi tersebut.
Empat Tujuan yang Dibawa ke Forum Sinjai
Kegiatan ini diselenggarakan untuk membedah tantangan ideologis di ruang digital sekaligus merumuskan strategi implementasi yang efektif, inklusif, dan aplikatif. Ada sejumlah tujuan yang ingin dicapai dari forum tersebut:
- Menyerap aspirasi dan gagasan mahasiswa, termasuk pandangan, kritik konstruktif, serta pemikiran inovatif terkait dinamika kebangsaan dan tantangan integrasi nasional di ruang digital.
- Mendorong reaktualisasi nilai kebangsaan dengan mengartikulasi ulang konsep Empat Pilar ke dalam bahasa, narasi, dan bentuk aksi nyata yang adaptif terhadap budaya digital mahasiswa.
- Menganalisis tantangan era digital, termasuk mengidentifikasi potensi ancaman ideologis di cyberspace seperti radikalisme online, polarisasi politik, dan disinformasi, serta merumuskan mitigasinya.
- Memperkuat sinergi DPD RI dan perguruan tinggi dengan membangun jejaring kolaborasi yang berkesinambungan antara parlemen dan sivitas akademika.
Rekomendasi Kebijakan yang Diharapkan Muncul
Forum ini juga diarahkan menghasilkan panduan serta rekomendasi kebijakan atau kegiatan kemahasiswaan berbasis digital. Bentuknya bisa berupa literasi digital kebangsaan, pembuatan konten edukatif, hingga etika berinternet.
Sinergi antara DPD RI dan perguruan tinggi menjadi salah satu fokus yang ingin diperkuat melalui pertemuan tersebut. Jejaring kolaborasi yang terbangun diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan saja.
Universitas Muhammadiyah Sinjai menjadi tuan rumah kegiatan yang menyasar langsung sivitas akademika di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.