Pencarian

5 Destinasi Wisata Sejarah di Sulawesi Selatan yang Penuh Cerita: dari Benteng Belanda hingga Gua Prasejarah

Minggu, 26 Juli 2026 • 07:34:01 WIB
5 Destinasi Wisata Sejarah di Sulawesi Selatan yang Penuh Cerita: dari Benteng Belanda hingga Gua Prasejarah

Makassar bukan satu-satunya titik sejarah di Sulawesi Selatan. Di Gowa, Maros, dan Palopo, ada sisa-sisa kekuasaan, perlawanan, dan kehidupan manusia ribuan tahun lalu. Kelima destinasi berikut ini adalah tempat di mana cerita masa lalu tidak hanya dipajang, tapi bisa dirasakan langsung saat Anda berdiri di lokasi.

1. Fort Rotterdam – Benteng Belanda di Jantung Makassar

Benteng peninggalan VOC ini berdiri di tepi pantai Makassar, tepatnya di Jalan Ujung Pandang. Arsitektur khas Eropa abad ke-17 masih utuh, dengan dinding tebal dan bastion di setiap sudut. Di dalamnya terdapat Museum La Galigo yang menyimpan koleksi etnografi dan sejarah Kerajaan Gowa-Tallo.

Untuk menikmati suasana, datanglah sore hari menjelang matahari terbenam. Udara pantai lebih sejuk, dan lampu-lampu mulai menerangi benteng. Tidak ada tarif tetap yang bisa disebut di sini, pastikan Anda mengecek informasi terbaru sebelum berkunjung.

2. Kompleks Makam Raja-Raja Gowa – Jejak Sultan dan Syekh

Terletak di Kelurahan Tompobalang, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, kompleks ini adalah tempat peristirahatan terakhir para penguasa Kerajaan Gowa, termasuk Sultan Hasanuddin. Makam-makam berukir khas dengan nisan berbentuk rumah panggung mencerminkan akulturasi Islam dan budaya lokal.

Lokasinya sekitar 15 menit dari pusat Kota Makassar. Sebaiknya berkunjung pagi hari agar tidak terlalu terik. Tidak ada biaya masuk resmi, namun biasanya ada kotak sumbangan sukarela untuk perawatan.

3. Taman Purbakala Leang-Leang – Lukisan Tangan 40.000 Tahun

Di kawasan karst Maros, sekitar 30 kilometer timur laut Makassar, terdapat gua-gua prasejarah dengan lukisan cap tangan dan babi rusa. Situs ini dikelola sebagai taman purbakala dan menjadi salah satu bukti hunian manusia tertua di Indonesia.

Aksesnya bisa menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum menuju Desa Leang-Leang. Waktu terbaik adalah pagi hari sebelum pukul 10.00 karena cahaya matahari masuk ke mulut gua dan membuat lukisan lebih jelas terlihat. Tiket masuk dikelola oleh pihak taman, jumlahnya tidak tetap – cek langsung di loket.

4. Benteng Somba Opu – Reruntuhan Pusat Pertahanan Gowa

Dulunya merupakan benteng utama Kerajaan Gowa yang membentang di sepanjang muara Sungai Tallo. Kini tinggal sisa fondasi dan parit, namun penggalian arkeologi terus dilakukan. Di area ini juga ada museum mini yang memamerkan keramik dan artefak dari masa lalu.

Letaknya di Jalan Somba Opu, Makassar, tepat di selatan pusat kota. Tempat ini lebih sepi pengunjung dibanding Fort Rotterdam, cocok untuk Anda yang ingin merenung sambil membayangkan kejayaan Gowa di abad ke-16. Tidak ada jam operasional pasti karena area terbuka, tapi sebaiknya datang siang hari.

5. Masjid Tua Palopo – Warisan Arsitektur Islam Abad ke-17

Masjid ini berada di pusat Kota Palopo, Sulawesi Selatan bagian utara. Dibangun pada masa Kerajaan Luwu, bangunannya memiliki atap tumpang tiga khas Jawa, meski pengaruh Hindu dan lokal juga terlihat. Mihrab dan mimbar dari kayu berukir masih asli.

Masjid masih digunakan untuk salat sehari-hari, jadi wisatawan harus menjaga kesopanan. Waktu terbaik berkunjung adalah antara salat Zuhur dan Asar, saat jamaah tidak terlalu ramai. Tidak ada tiket masuk – hanya parkir kendaraan mungkin dikenakan biaya sukarela.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah kelima tempat ini bisa ditempuh dalam satu hari?
Tidak. Fort Rotterdam, Makam Raja-Raja Gowa, dan Benteng Somba Opu relatif berdekatan di Makassar dan Gowa, bisa selesai setengah hari. Tapi Leang-Leang di Maros dan Masjid Tua Palopo butuh waktu perjalanan tambahan – Palopo berjarak sekitar 6 jam dari Makassar.

Adakah biaya masuk untuk setiap tempat?
Ada, tetapi besarannya tidak tetap dan bisa berubah sewaktu-waktu. Sangat disarankan mengecek langsung akun media sosial resmi pengelola atau bertanya di loket setibanya.

Apa yang harus dibawa saat mengunjungi Leang-Leang?
Sepatu tertutup, air minum, dan senter atau lampu ponsel karena sebagian gua gelap. Jangan menyentuh lukisan di dinding gua karena minyak tangan dapat merusak pigmen kuno.

Apakah ada pemandu wisata di Fort Rotterdam?
Ada, biasanya tersedia di Museum La Galigo. Anda bisa menyewa pemandu resmi untuk penjelasan lebih dalam tentang koleksi museum. Biaya jasa pemandu terpisah dari tiket masuk.

Kapan waktu terbaik berkunjung ke Sulawesi Selatan untuk wisata sejarah?
Musim kemarau antara Mei hingga Oktober. Cuaca cerah memudahkan akses jalan ke Leang-Leang dan kompleks makam. Hindari Desember–Februari saat curah hujan tinggi.

Kelima destinasi ini hanya sebagian kecil dari kekayaan sejarah Sulawesi Selatan. Setiap batu, lukisan, dan makam menyimpan narasi panjang yang menunggu untuk dijelajahi langsung. Rencanakan perjalanan Anda, cek jam operasional terbaru, dan biarkan cerita masa lalu berbicara saat Anda berada di sana.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks