SULAWESI SELATAN — Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menyatakan pemadaman serupa sebelumnya pada 25 April lalu berhasil menekan emisi karbon hingga 77,53 ton CO2e. "Suasana gelap selama satu jam menjadi simbol kepedulian bersama terhadap lingkungan dan masa depan kota," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (13/6).
Lokasi Pemadaman: dari Monas hingga Bundaran HI
Pemadaman mencakup kawasan simbolis dan ruas jalan utama. Titik-titik yang akan gelap meliputi Monumen Nasional (Monas), Patung Arjuna Wiwaha, Patung Selamat Datang Bundaran Hotel Indonesia (HI), Patung Pemuda, Patung Jenderal Sudirman, hingga kawasan Balai Kota DKI Jakarta. Selain itu, sejumlah ruas jalan protokol dan arteri juga ikut dipadamkan.
Dudi menjelaskan, pemadaman ini mengacu pada Instruksi Gubernur Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Pemadaman Lampu dalam Rangka Penghematan Energi dan Pengurangan Emisi Karbon. Regulasi itu menjadi dasar bagi Pemprov DKI untuk menggelar aksi serupa secara berkala.
Efisiensi Biaya dan Penurunan Emisi yang Terukur
Data dari aksi sebelumnya pada 25 April menunjukkan hasil konkret. Pemadaman selama satu jam menghasilkan penghematan listrik 96,91 MWh dengan efisiensi biaya mencapai Rp140.226.312. Kontribusi terhadap lingkungan juga tercatat signifikan, yakni penurunan emisi karbon sebesar 77,53 ton CO2e.
"Melalui aksi sederhana ini, kita bisa ikut menjaga kualitas lingkungan sekaligus menghemat energi," tutup Dudi. Angka-angka itu menjadi dasar optimisme Pemprov DKI bahwa kebiasaan hemat energi bisa dibangun secara kolektif.
Ajakan Mengubah Gaya Hidup Sehari-hari
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak hanya berhenti pada pemadaman simbolis. Dudi menekankan bahwa tujuan jangka panjangnya adalah mengajak masyarakat menjadikan hemat energi sebagai bagian dari gaya hidup. "Kami mengajak seluruh masyarakat menjadikan hemat energi sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari demi Jakarta yang lebih sehat dan nyaman untuk generasi mendatang," ucapnya.
Aksi ini menjadi pengingat bahwa pemadaman satu jam bukan sekadar seremoni, melainkan langkah nyata yang dampaknya bisa dihitung. Pertanyaannya kini, apakah kebiasaan ini akan bertahan setelah lampu kembali menyala?