MAKASSAR — Derasnya disrupsi teknologi, ketegangan sosial, perubahan iklim, dan kompetisi global memaksa kalangan akademisi keluar dari zona nyaman. Forum Silakwil dan Pelantikan CIDES ICMI Sulsel yang dihadiri Ketua Umum ICMI sekaligus Kepala BRIN Prof. Arif Satria, Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa, Ketua ICMI Sulsel Prof. Aris Munandar, dan Plt Rektor UNM Prof. Farida Patittingi, menjadi titik tolak perubahan paradigma tersebut.
Masa Depan Harus Diciptakan, Bukan Ditunggu
Prof. Arif Satria mengingatkan bahwa bangsa yang hanya menunggu akan tertinggal di era perubahan eksponensial. Ia mengutip futuris Alan Kay: “The best way to predict the future is to create it.” Menurutnya, perguruan tinggi, lembaga riset, dan organisasi intelektual seperti ICMI harus menjadi aktor utama yang merancang masa depan, bukan sekadar mengikuti arah perubahan global.
Inovasi Besar Lahir dari Masalah Nyata, Bukan dari Ruang Isolasi
Prof. Arif mencontohkan kisah ilmuwan keturunan Palestina di kamp pengungsian Yordania yang berhasil mengembangkan teknologi memanen air dari udara karena kekurangan air kronis. “Kalau dulu manusia memanen padi dari tanah, jagung dari tanah, ikan dari laut, sekarang manusia mulai memanen dari udara,” ujarnya. Pesannya jelas: inovasi berdampak lahir dari keberpihakan terhadap persoalan nyata masyarakat.
Akademisi Harus Keluar dari Menara Gading
Ketua ICMI Sulsel Prof. Aris Munandar menyoroti beban administrasi dan tuntutan publikasi ilmiah yang kerap menjauhkan ilmuwan dari ruang publik. CIDES diposisikan sebagai “dapur gagasan” yang menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat. “Melalui CIDES, kita ingin keluar dari menara gading. Kita ingin menghadirkan pemikiran yang relevan dan solutif bagi persoalan masyarakat,” tegasnya.
Dari Saudagar Menjadi Industriwan: Transformasi Ekonomi Berbasis Riset
Guru Besar Fisika FMIPA Unhas, Prof. Tasrif Surungan, mengingatkan bahwa masyarakat Bugis-Makassar yang dikenal sebagai saudagar ulung perlu bertransformasi menjadi industriwan. Nilai tambah terbesar kini lahir dari inovasi, manufaktur, dan teknologi. Contoh nyata terlihat dari langkah Yayasan Wakaf UMI yang memesan ambulans listrik dan bus listrik hasil karya peneliti internal, membuktikan riset bisa langsung menjadi produk bernilai ekonomi dan sosial.
Era Presisi: Pendekatan Seragam Tidak Lagi Memadai
Dunia bergerak menuju personalisasi dan presisi, baik di sektor pertanian maupun kesehatan. Teknologi memungkinkan kebutuhan pupuk dihitung spesifik per tanaman, dan pengobatan disesuaikan dengan karakter genetik individu. Era baru ini menuntut cara berpikir yang berbeda dan kemampuan memahami kebutuhan yang semakin spesifik.
Forum tersebut juga menyoroti perlunya belajar dari kejayaan peradaban Islam melalui Baitul Hikmah, sebagai pengingat bahwa pusat pengetahuan harus melahirkan solusi, bukan sekadar menjadi gudang teori. Sebelas poin strategis yang dirumuskan dalam Silakwil ini diharapkan menjadi pijakan bagi intelektual Sulsel dalam mendorong perubahan nyata di tengah masyarakat.