MAKASSAR — Sri Santi, perempuan asal Sulawesi Selatan yang merantau ke Bali, berhasil membangun usaha souvenir baju adat yang tembus ke pasar internasional. Produknya tidak hanya diminati wisatawan domestik, tetapi juga telah dikirim ke sejumlah negara di Eropa dan Amerika.
Kisah sukses ini bermula dari kepindahannya ke Pulau Dewata beberapa tahun lalu. Melihat potensi besar pasar oleh-oleh khas daerah, ia mulai merintis usaha kecil-kecilan dari rumah.
Awal Mula: Dari Dapur Rumah ke Pasar Dunia
Sri Santi mengaku awalnya hanya memproduksi baju adat mini dalam jumlah terbatas. Ia membuat sendiri pola dan jahitan, lalu menitipkan dagangannya ke toko-toko suvenir di sekitar Denpasar dan Ubud.
“Awalnya saya hanya coba-coba, ternyata responsnya bagus. Banyak turis asing yang tertarik karena bentuknya unik dan merepresentasikan budaya Indonesia,” ujarnya.
Proses Produksi dan Bahan Baku Lokal
Dalam setiap produksinya, Sri Santi menggunakan kain tradisional seperti songket dan tenun yang ia datangkan langsung dari Sulawesi Selatan. Ia juga mempekerjakan tiga orang perajin lokal di Bali untuk membantu proses jahit dan finishing.
Satu set souvenir baju adat lengkap dengan aksesori dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu tergantung tingkat kerumitan dan jenis kain yang digunakan.
Tembus Pameran dan Pesanan dari Luar Negeri
Pesanan mulai berdatangan dari berbagai negara setelah produknya dipamerkan dalam sejumlah event pariwisata dan pameran UMKM di Bali. Pembeli dari Belanda, Jerman, hingga Amerika Serikat tercatat pernah memesan dalam jumlah besar untuk dijadikan cinderamata acara budaya.
Sri Santi mengaku tidak menyangka usahanya bisa berkembang hingga ke mancanegara. “Saya hanya ingin memperkenalkan baju adat Sulsel ke lebih banyak orang. Ternyata peminatnya banyak, bahkan dari luar negeri,” katanya.
Apa Langkah Selanjutnya?
Ke depan, Sri Santi berencana menambah kapasitas produksi dan merekrut lebih banyak tenaga kerja lokal. Ia juga tengah menjajaki kerja sama dengan platform e-commerce internasional untuk memperluas jangkauan pasar.
Ia berharap kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lain di daerah untuk tidak ragu memulai usaha meski dari skala kecil. “Kuncinya konsisten dan percaya sama produk sendiri,” pungkasnya.