Trump Ganti Nama AI Jadi Superior Intelligence dan Bentuk AI Force

Penulis: Nurul Huda  •  Minggu, 20 September 2026 | 11:37:31 WIB

SULAWESI SELATAN — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengusulkan penggantian istilah Artificial Intelligence lewat polling di Truth Social, dengan pilihan nama Superior Intelligence, Extreme Intelligence, atau Supreme Intelligence. Ia juga mengumumkan pembentukan AI Force, struktur baru yang ia samakan dengan Space Force, plus posisi AI Czar yang akan segera diumumkan. Langkah ini muncul di tengah debat keamanan AI yang makin panas setelah seorang peneliti keluar dari Anthropic.

Usulan rebranding itu bukan satu-satunya manuver Trump soal AI. Dalam rangkaian unggahan terpisah, ia menyatakan bakal membentuk AI Force, sebuah struktur yang ia sejajarkan dengan Space Force yang ia dirikan pada periode pertama pemerintahannya. Ia juga berjanji mengumumkan sosok AI Czar dalam waktu dekat.

Nama Baru AI Versi Trump

Trump menulis di Truth Social bahwa banyak orang menganggap kata "Artificial Intelligence" tidak tepat dan tidak elegan. Karena itu ia membuka jajak pendapat agar pengikutnya memilih nama alternatif. Ketiga opsi yang diajukan sama-sama memakai kata "Intelligence" dengan awalan Superior, Extreme, atau Supreme.

Polling ini sifatnya tidak mengikat. Tidak ada penjelasan apakah hasilnya akan dipakai untuk kebijakan resmi, dokumen pemerintahan, atau sekadar penamaan ulang di level komunikasi publik. Yang jelas, istilah Artificial Intelligence sudah tertanam di regulasi, industri, dan riset global selama puluhan tahun.

AI Force dan AI Czar: Apa Tugasnya?

Trump menyatakan akan "menjaga, membantu, dan mengawasi" industri AI saat tumbuh. Untuk itu ia membentuk AI Force dan menyiapkan posisi AI Czar. Dalam unggahannya, ia menulis bahwa hanya individu dengan IQ tinggi yang perlu melamar.

Namun Trump tidak merinci apa tugas AI Force maupun AI Czar. Sebagai gambaran, Space Force yang ia bentuk sebelumnya adalah cabang militer terpisah dengan struktur komando, anggaran, dan personel sendiri. Apakah AI Force akan mengikuti model serupa, atau justru berupa badan koordinasi lintas kementerian, belum ada keterangan resmi.

Posisi AI Czar sendiri sempat diisi venture capitalist David Sacks. Ia mundur dari jabatan AI dan crypto czar pada awal tahun ini, lalu beralih menjadi co-chair President's Council of Advisors on Science and Technology. Kursi yang ia tinggalkan kini kosong, dan Trump berjanji segera mengisinya.

Klaim Hoax dan Serangan ke Data Center

Dalam unggahan lanjutan, Trump menyebut upaya "menghancurkan AI" sebagai bagian dari deretan hoax Partai Demokrat. Ia menyandingkannya dengan isu Rusia, Ukraina, pemanasan global, dua impeachment, atlet transgender, dan lain-lain. Trump tidak menyertakan bukti bahwa gelombang kritik terhadap AI dan data center bersifat terorganisir atau tidak tulus.

Ia juga menyinggung serangan terhadap data center yang menurutnya gagal, sehingga kritik kini diarahkan langsung ke AI. Kenyataannya, penolakan terhadap data center datang dari kedua kubu politik. Negara bagian New York baru-baru ini menjadi yang pertama menghentikan izin proyek data center berskala besar.

Pernyataan Trump ini menyambung komentarnya di sebuah turnamen golf akhir pekan lalu. Saat itu ia mengaku terbuka pada "guardrails" atau pagar pengaman, tapi juga menilai ada pihak-pihak negatif yang mempermasalahkan AI tanpa alasan kuat.

Tekanan dari Industri dan Peneliti

Debat keamanan AI memanas setelah seorang peneliti menyatakan keluar dari Anthropic. Ia khawatir perusahaan AI terkemuka "sungguh-sungguh percaya teknologi ini bisa membunuh kita semua pada akhir dekade ini" dan "mempertaruhkan hidup kita". CEO Anthropic Dario Amodei lalu merilis rencana "pace the frontier" yang tampaknya didukung CEO OpenAI Sam Altman dan CEO SpaceX Elon Musk.

Kritikus industri menilai kekhawatiran soal ancaman eksistensial AI justru mengalihkan perhatian dari bahaya yang lebih nyata dan dekat, seperti bias algoritma, disinformasi, dan penggantian tenaga kerja.

Dukungan Nvidia

CEO Nvidia Jensen Huang ikut bersuara. Dalam sesi All-In Summit yang turut dipandu Sacks, ia memanggil Trump ke atas panggung dan menyetujui bahwa kritik balik terhadap AI adalah "hoax". Huang menegaskan pihaknya tidak akan membiarkan perlambatan industri terjadi.

Bagi pengguna di Indonesia, perdebatan ini berdampak tidak langsung. Regulasi AI nasional, investasi pusat data, dan arah kebijakan teknologi global kerap mengikuti dinamika Washington. Nama "AI Force" dan "AI Czar" bisa jadi istilah yang muncul di dokumen kebijakan atau pemberitaan dalam beberapa bulan ke depan.

Yang paling relevan untuk dicermati: apakah AI Force nantinya mengurus standar keamanan, pengadaan pemerintah, atau justru mempercepat deregulasi. Tanpa rincian tugas, sulit menilai arah kebijakan Trump terhadap industri AI.

Reporter: Nurul Huda
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top