JAKARTA — Pelemahan rupiah pagi ini terjadi di tengah sentimen geopolitik yang kembali memanas. Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kabar terbaru mengenai penyerangan Amerika Serikat ke Iran.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat menyusul berita penyerangan terbaru AS ke Iran, memperumit prospek harapan pada perdamaian di Timur Tengah,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (28/5).
Ketegangan di Timur Tengah secara historis menjadi katalis penguatan dolar AS sebagai aset safe haven. Investor global cenderung melepas mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dan beralih ke dolar saat risiko konflik meningkat. Kondisi ini membuat nilai tukar rupiah rentan terhadap guncangan eksternal, terutama yang berasal dari dinamika geopolitik global.
Pelemahan rupiah pagi ini juga terjadi seiring pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang kompak terdepresiasi. Yuan China turun 0,05 persen, ringgit Malaysia melemah 0,24 persen, dan yen Jepang terkoreksi 0,04 persen. Hanya dolar Hong Kong yang mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,03 persen.
Lukman Leong memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan berada dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS. Level Rp17.900 menjadi batas psikologis yang patut diwaspadai. Jika tekanan berlanjut, bukan tidak mungkin rupiah menembus level tersebut dalam waktu dekat.
Di sisi lain, mata uang utama negara maju juga tercatat melemah terhadap dolar AS. Euro Eropa turun 0,13 persen, poundsterling Inggris melemah 0,19 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,29 persen. Pola ini memperkuat sinyal bahwa penguatan dolar AS bersifat luas, tidak hanya menyasar mata uang emerging market.
Pelemahan rupiah yang berkepanjangan berdampak langsung pada harga barang impor, termasuk bahan baku industri, elektronik, hingga obat-obatan. Sektor UMKM yang bergantung pada bahan baku impor berpotensi mengalami kenaikan biaya produksi. Sementara itu, bagi masyarakat yang berencana bepergian ke luar negeri, biaya transportasi dan akomodasi menjadi lebih mahal.
Bank Indonesia sebelumnya telah menyatakan akan terus melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya. Namun, dalam jangka pendek, sentimen eksternal seperti konflik geopolitik masih menjadi faktor dominan yang menggerakkan pasar.