Pencarian

Beban Neymar yang Tak Pernah Reda: Dari Messi ke Piala Dunia 2026

Minggu, 24 Mei 2026 • 03:57:01 WIB
Beban Neymar yang Tak Pernah Reda: Dari Messi ke Piala Dunia 2026
Neymar tampil merenung di parkiran stadion Kazan usai kekalahan Brasil di Piala Dunia 2018.

SULAWESI SELATAN — Ketika Neymar melakoni debutnya untuk Brasil pada 2010, ia datang sebagai bagian dari regenerasi skuad setelah kegagalan di Piala Dunia Afrika Selatan. Saat itu, Messi berusia 23 tahun dan sudah menjadi bintang. Brasil, dengan segala kebanggaannya, merasa harus memiliki padanannya. Neymar-lah yang dipilih untuk mengisi peran itu — dan ia tak pernah lepas dari bayang-bayang sang rival Argentina sejak saat itu.

Dari Harapan ke Beban: Narasi Messi yang Dipaksakan

Ancelotti memanggil Neymar yang kini berusia 34 tahun, hanya setahun lebih muda dari Messi saat terakhir kali mengangkat trofi Piala Dunia. Namun, perbandingan itu berhenti di angka. Sepanjang kariernya, Neymar lebih sering menjadi wadah bagi narasi yang bertentangan — ia dipuja sekaligus difrustrasikan, dianggap jenius sekaligus diva.

Ada ironi yang sering terlewatkan dalam kisah Neymar: potensi besarnya tak pernah sepenuhnya terwujud karena ia terus-menerus dipaksa menjadi figur yang bukan dirinya. Substansi permainannya kerap kalah dari citra yang dibangun di sekelilingnya.

Momen Paling Sendiri: Bus Tim di Kazan, 2018

Gambaran paling gamblang tentang beban Neymar mungkin terjadi usai Brasil tersingkir di perempat final Piala Dunia 2018 oleh Belgia. Saat itu, ia berdiri sendirian di samping bus tim di parkiran stadion Kazan, membungkuk di bawah sorotan lampu LED raksasa. Usianya baru 26 tahun, tapi seolah peluang terbaiknya untuk menang sudah lewat.

Kekalahan itu bukan sepenuhnya salahnya. Tapi kehadirannya di lapangan justru menciptakan celah taktis yang dieksploitasi Roberto Martínez. Romelu Lukaku digeser ke kanan, dan setiap kali Belgia merebut bola, mereka langsung menusuk sisi kiri Brasil yang rapuh. Tanpa gelandang pekerja seperti Rodrigo De Paul, Brasil tampil timpang dan kalah.

Dari Rosales ke Zúñiga: Siklus Kekerasan dan Drama

Masalah Neymar sebenarnya sudah terlihat sejak Copa América 2011. Setelah membawa Santos juara Copa Libertadores, ia datang ke Argentina dengan gebyar luar biasa — sampai bertemu Roberto Rosales, bek Venezuela yang tak kenal kompromi. Dua duel melawan Darío Verón dari Paraguay kemudian menyempurnakan pesannya: Neymar benar-benar tidak suka saat lawan mengimbangi permainannya.

Para bek mulai menendangnya. Neymar pun mulai mengantisipasi kontak, membesar-besarkan jatuh, dan melakukan diving. Sepanjang dekade 2010-an, aksi saling bully antara Neymar dan para bek menjadi perlombaan senjata paling menjengkelkan di sepak bola.

Puncaknya terjadi di perempat final Piala Dunia 2014. Brasil menang atas Kolombia, tapi Neymar mengalami fraktur tulang belakang setelah lutut Juan Camilo Zúñiga menghantam punggungnya. Meski tantangan itu lebih terlihat ceroboh ketimbang berniat jahat, Zúñiga langsung dihujat federasi Brasil dan menjadi sasaran kampanye kebencian di media sosial.

Tanpa Messi, Apa Jadinya Umat?

Suasana di Rio de Janeiro keesokan paginya hening, seperti setelah bencana nasional. Publik Brasil histeris: bagaimana mungkin mereka mengalahkan Jerman di semifinal tanpa pemain yang begitu diagungkan? David Luiz mengangkat jersey Neymar saat lagu kebangsaan, histeria merasuki seluruh tim, dan Jerman dengan dingin mencetak tujuh gol.

Sebuah negara kehilangan akal sehatnya, membangun Neymar menjadi pemain yang sejatinya bukan ia. Setahun kemudian di Copa América Chile, Kolombia memprovokasinya hingga ia diusir keluar lapangan setelah melakukan sundulan ke belakang. Namun, ia tetap dipanggil. Ancelotti, seperti para pendahulunya, masih percaya pada narasi yang sama.

Bagikan
Sumber: theguardian.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks