MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar memperkuat program pertanian perkotaan hingga ke tingkat RT dan RW. Wali Kota Munafri Arifuddin meninjau langsung praktik urban farming terintegrasi di RW 02, RT 03, Kelurahan Paccerakkang, Selasa (19/5/2026).
Dari Pekarangan Sempit, Panen 150 Kilogram Kangkung per 20 Hari
Di Kecamatan Tamalate, kelompok warga berhasil membudidayakan kangkung dengan masa panen 20 hingga 21 hari. Produksi mencapai 150 kilogram per panen dan mulai diserap pasar lokal, termasuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan pangan segar setiap hari.
Wali Kota mengapresiasi inisiatif Haji Ridwan yang mengelola budidaya ikan, sayuran, dan ternak dalam satu kawasan pekarangan rumah. Konsep ini dinilai bisa menjadi contoh bagi wilayah lain di Makassar.
Bukan Sekadar Menanam, tapi Strategi Ekonomi Keluarga
Munafri menegaskan urban farming bukan aktivitas menanam biasa, melainkan bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan. Ia meminta setiap kelurahan memaksimalkan lahan sempit agar lebih produktif dan bernilai ekonomi.
“Ini luar biasa. Ada ayam, ikan, sayur, semua terintegrasi dalam satu kawasan. Ini harus menjadi contoh bagi masyarakat lain untuk memanfaatkan setiap jengkal lahan yang dimiliki,” kata Munafri di hadapan tokoh masyarakat dan ketua RT/RW setempat.
Mengendalikan Inflasi dari Halaman Rumah
Program ini juga menjadi alat pengendali inflasi daerah. Dengan memproduksi bahan pangan sendiri, warga tidak perlu bergantung penuh pada pasokan dari luar kota yang harganya fluktuatif.
“Urban farming ini bukan hanya soal menanam, tetapi bagaimana masyarakat dapat memanfaatkan lahan terbatas untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari,” ujar pria yang akrab disapa Appi itu.
Pemkot Makassar mendorong replikasi model Paccerakkang ke seluruh kecamatan. Targetnya, setiap kelurahan memiliki minimal satu kelompok urban farming aktif yang terintegrasi dengan program ketahanan pangan kota.