MAKASSAR — Fenomena El Niño yang kembali menyapa Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan, bukan sekadar musim kemarau biasa. Anomali iklim ini dipicu oleh melemahnya angin pasat yang biasanya bertiup kencang dari timur ke barat di sepanjang Samudra Pasifik ekuator. Akibatnya, massa air laut hangat yang seharusnya terkumpul di wilayah Indonesia justru bergeser ke arah pantai barat Amerika Selatan.
Apa Saja Dampak Langsung yang Mengancam Warga?
Dampak paling nyata dari pergeseran massa air hangat ini adalah kekeringan etimologis. Sumber-sumber air seperti sungai dan waduk mengalami penyusutan debit secara signifikan. Kondisi ini berujung pada krisis air bersih yang kerap melanda sejumlah wilayah di Sulsel saat puncak musim kemarau.
Selain itu, peningkatan suhu yang drastis meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kabut asap yang ditimbulkan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga menurunkan kualitas udara dan mengancam kesehatan warga, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Mengapa El Niño Bisa Terjadi Meski Angin Pasat Melemah?
Proses ilmiah di balik El Niño cukup kompleks. Dalam kondisi normal, angin pasat mendorong air hangat ke arah Indonesia, menciptakan kawasan kaya awan hujan. Namun, siklus atmosfer global tertentu membuat kekuatan angin ini menurun drastis. Air hangat yang tadinya menumpuk di Indonesia pun "mundur" ke Pasifik Tengah dan Timur.
Proses upwelling—naiknya air dingin kaya nutrisi ke permukaan—di pantai barat Amerika Selatan pun terhenti. Interaksi antara perubahan suhu laut dan tekanan udara inilah yang disebut sebagai ENSO (El Niño-Southern Oscillation). Pemanasan global disebut-sebut mempercepat siklus alami yang terjadi setiap 2 hingga 7 tahun ini, membuat frekuensi dan intensitasnya kian ekstrem.
Teori Perilaku: Mengubah Niat Warga Jadi Aksi Nyata
Andi Rini Sulestiani, mahasiswi pascasarjana UIN Alauddin Makassar, dalam tulisannya di Suaracelebes.com mengingatkan pentingnya pendekatan psikologis dalam mitigasi bencana. Mengacu pada Theory of Planned Behavior dari Icek Ajzen, ia menyebut bahwa tindakan seseorang didasari oleh niat yang dibentuk tiga faktor: sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku.
Sikap berarti bagaimana warga memandang pentingnya langkah pencegahan seperti menghemat air atau menanam pohon. Norma subjektif berkaitan dengan dorongan dari lingkungan sekitar, seperti tetangga atau tokoh masyarakat, untuk ikut memitigasi dampak. Sementara kontrol perilaku mengacu pada kemudahan akses warga terhadap informasi dan alat mitigasi.
Laporan Food and Agriculture Organization (FAO) pada 2024 membuktikan bahwa ketika pemerintah menurunkan tingkat kesulitan tindakan—misalnya dengan menyediakan tempat penampungan air atau sistem irigasi sederhana—niat petani untuk menghemat air melonjak drastis. Artinya, kebijakan yang memudahkan akses warga menjadi kunci agar kesadaran berubah menjadi aksi nyata.