PALOPO — Kegelisahan akademisi terhadap kondisi psikologis pelajar Indonesia kembali mencuat. Abdul Zahir, dosen Universitas Cokroaminoto Palopo, menyoroti fenomena yang disebut sebagai "generasi cemas" dalam sebuah opini yang merespons pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Pernyataan itu disampaikan Menteri saat memberi pengarahan kepada 16.199 fasilitator Program Penguatan Pembelajaran Mendalam (PM) yang telah dilatih pada 2025. Abdul Zahir menjadi salah satu peserta dalam kegiatan virtual yang digelar pada 6 Mei 2026 itu.
Mengapa Menteri Sebut Generasi Alfa Ringkih?
Dalam arahannya, Menteri Dikdasmen menyebut generasi alfa dan sebagian generasi Z sebagai generasi yang ringkih. Ia mengutip istilah "generasi stroberi" dari Rhenald Kasali, yakni generasi yang sehat secara fisik namun rapuh secara mental dan miskin secara intelektual.
Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. bahkan melabeli mereka sebagai fragile generation. Lebih lanjut, Menteri mengutip pemikiran psikolog sosial Jonathan Haidt yang menyebut kondisi saat ini sebagai era "generasi cemas".
Apa Pemicu Kecemasan di Kalangan Pelajar?
Abdul Zahir memaparkan bahwa fenomena ini berakar pada pergeseran masa kecil dari permainan fisik ke kurungan layar gawai. Di Amerika Serikat, data menunjukkan lonjakan eksponensial gangguan kecemasan dan depresi remaja sejak dekade 2010-an, bertepatan dengan dominasi ponsel pintar dan media sosial.
"Ketergantungan pada teknologi ini menciptakan sebuah ekosistem digital yang tidak pernah tidur," tulis Abdul Zahir. Media sosial disebut telah menggantikan lapangan bermain dengan ruang pamer yang penuh kurasi kehidupan tidak realistis.
Akibatnya, remaja kehilangan kemampuan menghadapi kebosanan dan kesulitan kecil karena terbiasa mendapat pelarian instan. Kecemasan lahir dari rasa takut tertinggal dan tekanan untuk tampil sempurna di hadapan audiens global.
Dilema Digital di Ruang Kelas Indonesia
Indonesia, sebagai salah satu negara dengan durasi penggunaan internet harian tertinggi di dunia, menghadapi tantangan serupa. Siswa kini lebih sering berinteraksi dengan layar daripada berdiskusi mendalam dengan teman sebaya, yang mengikis empati dan kemampuan komunikasi interpersonal.
Kemudahan akses informasi melalui mesin pencari justru melahirkan kerapuhan mental. "Ketika jawaban bisa ditemukan dalam hitungan detik, daya tahan siswa dalam memecahkan masalah yang kompleks menjadi sangat lemah," ujar Abdul Zahir.
Standar Kesuksesan Dangkal vs Pendidikan Karakter
Media sosial disebut menciptakan standar kesuksesan dangkal yang bertabrakan dengan nilai-nilai pendidikan karakter. Di satu sisi, kurikulum menanamkan kerendahan hati dan integritas, namun algoritma media sosial memuja kekayaan dan popularitas instan.
Perpecahan identitas ini membuat siswa cemas karena dunia sekolah terasa lamban dibandingkan stimulasi digital yang serba cepat. Hal ini memicu penurunan minat belajar secara signifikan.
Program penguatan pembelajaran mendalam yang digagas pemerintah diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara kemajuan teknologi dan kesehatan mental peserta didik.