MAKASSAR — Indeks Harga Konsumen (IHK) Sulawesi Selatan pada Oktober 2026 mencapai 113,44, meningkat dari 108,83 pada periode yang sama tahun lalu. Angka itu tertuang dalam Berita Resmi Statistik BPS Sulsel yang dirilis 2 November 2026.
Secara bulanan, Sulsel mengalami inflasi 0,57 persen. Sementara inflasi kumulatif Januari hingga Oktober 2026 (year-to-date) mencapai 3,81 persen.
Kenaikan inflasi tahunan dari 3,75 persen ke 4,24 persen menandakan tekanan harga barang dan jasa di provinsi ini semakin besar. Kelompok pangan memegang peran dominan dalam lonjakan tersebut.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi tahunan 7,71 persen dengan andil 2,39 persen terhadap inflasi umum Sulsel. Cabai rawit menjadi komoditas penyumbang terbesar dengan andil 0,49 persen.
Emas perhiasan menyusul dengan andil 0,25 persen, daging ayam ras 0,17 persen, dan bensin 0,15 persen. Komoditas perikanan juga memberi tekanan, yakni ikan layang atau benggol 0,14 persen dan ikan bandeng atau bolu 0,11 persen.
Cabai merah dan minyak goreng masing-masing menyumbang 0,13 persen. Nasi dengan lauk juga 0,13 persen, sedangkan tomat dan sigaret kretek mesin (SKM) masing-masing 0,09 persen.
Data itu memperlihatkan tekanan inflasi tidak berasal dari satu jenis kebutuhan saja. Kenaikan harga pangan, perikanan, energi, hingga emas bersama-sama membentuk kenaikan biaya hidup warga.
Pada pergerakan bulanan, komoditas pangan segar masih menjadi faktor dominan. Cabai rawit memberi andil terbesar terhadap inflasi bulanan 0,13 persen, disusul tomat 0,12 persen dan cabai merah 0,07 persen.
Ikan bandeng menyumbang 0,05 persen, sedangkan daging ayam ras 0,04 persen. Labu siam, wortel, angkutan udara, jeruk nipis, dan jagung manis turut mendorong inflasi bulanan.
Dominasi komoditas hortikultura menunjukkan gejolak harga pangan segar masih menjadi tantangan stabilitas harga di Sulsel. Kondisi produksi, cuaca, distribusi dari sentra pertanian ke pasar, serta kelancaran pasokan menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
BPS mencatat seluruh kelompok pengeluaran di Sulsel mengalami inflasi secara tahunan. Setelah makanan, minuman, dan tembakau, kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,74 persen.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi 4,15 persen, sedangkan transportasi 3,79 persen. Pendidikan naik 2,80 persen, perlengkapan rumah tangga 2,33 persen, rekreasi dan budaya 2,02 persen, serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan 2 persen.
Kelompok kesehatan mencatat inflasi 1,64 persen dan perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 1,38 persen. Pakaian dan alas kaki menjadi yang terendah dengan 0,50 persen.
Kenaikan di sektor transportasi dan jasa memperlihatkan tekanan biaya hidup merambah kebutuhan di luar konsumsi pangan sehari-hari.
Dari delapan kabupaten/kota cakupan penghitungan IHK BPS Sulsel, Makassar mencatat inflasi tahunan tertinggi. Inflasi Makassar mencapai 4,55 persen dengan IHK 113,89.
Kabupaten Sidenreng Rappang menyusul dengan 4,29 persen, Luwu Timur 4,01 persen, dan Wajo 3,93 persen. Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Bulukumba sebesar 2,86 persen.
Daerah lainnya, Watampone sebesar 3,63 persen, Parepare 3,66 persen, dan Palopo 2,99 persen.
Kenaikan inflasi menjadi perhatian karena berlangsung di tengah kebutuhan menjaga daya beli masyarakat. Komoditas pangan yang menjadi penyumbang terbesar merupakan kebutuhan yang langsung bersentuhan dengan pengeluaran rumah tangga.