MAKASSAR — Instruksi itu datang langsung dari Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin. Ia meminta agar program pertanian perkotaan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi terintegrasi dengan kebutuhan pasar, khususnya pasokan pangan untuk program makan siang bergizi siswa.
“Pertanian perkotaan ini bukan hanya soal menanam, tapi bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan lahan terbatas untuk menghasilkan kebutuhan pangan sehari-hari dan nilai tambah,” ujarnya di Makassar, Sabtu (23/5).
Salah satu contoh konkret yang diapresiasi Munafri adalah praktik di Kecamatan Tamalate. Di sana, kelompok masyarakat berhasil membudidayakan kangkung dengan masa panen super cepat, hanya 20–21 hari. Dalam sekali panen, mereka mampu menghasilkan hingga 150 kilogram.
Yang menarik, hasil panen tersebut tidak mengalami kendala pemasaran. “Sudah terserap oleh pasar lokal, seperti MBG yang membutuhkan pasokan rutin setiap hari. Pola kerja sama ini saling menguntungkan antara kelompok tani dan pelaku usaha,” jelas Munafri.
Wali kota juga menyoroti praktik pertanian terintegrasi yang dikembangkan warga, seperti yang dilakukan Haji Ridwan bersama keluarganya. Konsep ini menggabungkan budi daya ikan, sayuran, hingga ternak ayam dalam satu kawasan. Menurut Munafri, model ini layak direplikasi di wilayah lain.
“Ini luar biasa. Ada ayam, ikan, sayur, semua terintegrasi. Ini harus menjadi contoh bagi masyarakat lain untuk memanfaatkan setiap jengkal lahan yang dimiliki,” katanya.
Tak hanya soal hasil panen, Munafri menekankan bahwa kelompok tani di Makassar juga telah mengelola limbah dengan baik. Sisa makanan diolah menjadi pupuk kompos. Hal ini menunjukkan adanya ekosistem pertanian berkelanjutan di tingkat masyarakat.
“Ini yang kita harapkan, ada siklus ekonomi yang berjalan. Masyarakat dapat penghasilan tambahan, sementara kebutuhan pasar juga terpenuhi,” tegasnya.
Ke depan, Munafri mendorong camat dan lurah untuk lebih aktif membuka akses serta pendampingan kepada warga. Tujuannya agar program pertanian perkotaan semakin meluas dan terorganisir. Selain pangan, Pemkot Makassar juga tengah mendorong pengembangan kawasan berbasis tanaman herbal.
“Ini potensi besar. Kalau dikelola dengan baik, bisa menjadi identitas wilayah, sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat,” ucap Munafri.