MASAMBA — Ali Yafid mengingatkan bahwa menjadi abdi negara di Kementerian Agama bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah yang harus disyukuri dengan pengabdian nyata. “Naik jabatan, maka harus naik juga kapasitasnya. Gunakan kapasitas itu untuk melayani, mengajar dengan penuh kasih sayang, dan rasa tanggung jawab. Itulah kurikulum cinta,” ujarnya di hadapan jajaran ASN Kemenag Luwu Utara.
Dalam arahannya, pria yang akrab disapa Kakanwil itu menekankan pentingnya ketulusan dalam setiap tugas. Ia meminta seluruh ASN untuk melayani tanpa pamrih dan menghindari sikap yang bisa mengecewakan warga. “Silakan laksanakan tugas dengan baik. Layani masyarakat dengan keikhlasan dan ketulusan. Jangan sampai ada masyarakat yang kecewa, karena Allah mengetahui setiap niat dan pengabdian kita,” pesannya.
Ali Yafid juga menyoroti program prioritas Kementerian Agama, salah satunya penguatan ekoteologi. Pendekatan spiritual ini dinilai relevan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup di tengah isu perubahan iklim. Selain itu, ia mengajak ASN untuk terus merawat kerukunan antarumat beragama dan menghormati perbedaan yang ada.
“Semua agama menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, kasih sayang, kejujuran, keadilan, dan ketaatan terhadap konstitusi. Karena itu mari kita saling menghargai dan menghormati,” kata Kakanwil.
Menutup sesi pembinaan, Ali Yafid mengajak seluruh ASN untuk membulatkan tekad membangun institusi yang berintegritas dan profesional. Ia menyebut rasa syukur atas amanah yang diberikan harus diwujudkan lewat sikap tawadhu, qanaah, dan disiplin tinggi. “Kehadiran serta tanggung jawab kita sebagai ASN harus terus dijaga,” tutupnya.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Kemenag Luwu Utara itu dihadiri langsung oleh Kepala Kantor setempat, H. M. Rusydi Hasyim, beserta jajaran ASN. Pembinaan ini menjadi bagian dari upaya Kemenag Sulsel memperkuat etos kerja dan pelayanan publik di daerah.