SULAWESI SELATAN — Banjir lahar hujan Gunung Semeru menjebolkan tanggul sungai di Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Senin (2/11/2026) dini hari. Getaran banjir lahar tercatat berlangsung enam jam tanpa henti, dengan amplitudo maksimum 65 milimeter, dan membuat Jembatan Limpas di kawasan Tempursari tak bisa dilalui sementara waktu.
Pos Pengamatan Gunung Semeru mencatat getaran banjir lahar itu berlangsung sejak pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Laporan periode tersebut mencatat amplitudo maksimum 65 milimeter dengan durasi 21.600 detik, atau setara enam jam nonstop.
Aliran lahar datang setelah hujan deras mengguyur kawasan puncak gunung. Debit air yang naik di sejumlah daerah aliran sungai (DAS) Semeru memperbesar ancaman lahar susulan ke kawasan permukiman di sekitarnya.
Deru air bercampur material vulkanik merobohkan tanggul sungai di Desa Purorejo. Kerusakan itu membuat aliran lahar mendekati permukiman warga, bukan lagi tertahan di badan sungai.
Jembatan Limpas di wilayah Tempursari ikut terdampak dan tidak dapat dilalui untuk sementara waktu. Warga yang biasa melintas di jalur tersebut harus mencari rute alternatif selama perbaikan dan pembersihan material belum tuntas.
Pemerintah desa dan petugas di lapangan diminta menghentikan aktivitas penambangan pasir di sekitar aliran sungai. Penambangan dinilai menambah risiko ketika lahar kembali turun dengan volume besar.
Secara visual, puncak Gunung Semeru tidak terlihat selama banjir lahar berlangsung. Kabut tebal menutup area puncak, sementara cuaca di sekitar pos pengamatan dilaporkan hujan disertai angin lemah mengarah ke barat dan barat laut.
Suhu udara di kawasan pengamatan berkisar 19 hingga 21 derajat Celsius. Kondisi itu membuat material vulkanik yang tersimpan di hulu tetap basah dan mudah terbawa arus bila hujan kembali turun.
Warga di sepanjang DAS Semeru, khususnya Kecamatan Tempursari, diminta menjauhi bibir sungai dan tidak beraktivitas di area aliran lahar. Ancaman lahar susulan masih terbuka selama intensitas hujan di kawasan puncak belum turun.
Bagi warga Lumajang yang tinggal di jalur rawan, kesiapan jalur evakuasi dan informasi dari pos pengamatan menjadi kunci. Getaran banjir lahar yang terekam malam itu menunjukkan aliran material masih aktif bergerak meski puncak gunung tak terlihat.
Banjir lahar Semeru bukan peristiwa pertama di Lumajang. Pola hujan deras di hulu yang berujung jebolnya tanggul dan putusnya akses jembatan menegaskan bahwa kawasan hilir masih menyimpan risiko yang sama setiap kali cuaca ekstrem datang.