MAKASSAR — BAZNAS RI menilai gagasan Kota Filantropi Nasional yang digagas Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin perlu segera diterjemahkan menjadi gerakan nyata, bukan berhenti pada seremoni. Saidah Sakwan menekankan eksekusi program harus menjangkau hingga tingkat kelurahan dan masyarakat akar rumput.
Pembahasan awal antara BAZNAS Pusat dan BAZNAS Kota Makassar sudah dilakukan. Tahap berikutnya mempercepat eksekusi lewat rangkaian program menuju peluncuran gerakan filantropi di Makassar.
"Kita saling mendukung gagasan, segera dieksekusi saja. Kita bikin Road to Philanthropy City. Rencananya akan di-launching November," kata Saidah.
Instrumen yang dinilai strategis adalah memperkuat Unit Pengumpul Zakat (UPZ) hingga tingkat kelurahan. Saidah mendorong BAZNAS Makassar membentuk institusi di tingkat kota sampai kelurahan.
"Kita dorong BAZNAS Makassar untuk membuat institusi di tingkat kota, sampai tingkat kelurahan, yaitu UPZ. Di Kecamatan dan Kelurahan itu harus ada UPZ," jelasnya.
Menurut Saidah, UPZ di tingkat kelurahan akan menampung sekaligus menggerakkan berbagai program filantropi. Institusi itu yang nantinya mengeksekusi program-program gerakan Wali Kota di tingkat paling akar rumput.
"UPZ inilah yang nanti akan mengeksekusi program-program gerakan Pak Wali yang diluncurkan. Jadi bisa dieksekusi di tingkat paling akar rumput, di tingkat masyarakat," ujarnya.
Saidah menegaskan gerakan filantropi tidak boleh sekadar menjadi kampanye pada momentum tertentu. Dibutuhkan sistem kelembagaan yang memastikan semangat berbagi tumbuh dan dirasakan langsung masyarakat.
Salah satu caranya melalui penguatan literasi filantropi sejak usia sekolah. Pelajar tidak hanya diberi pemahaman soal zakat, amil, dan mustahik, tetapi juga dilibatkan dalam praktik kegiatan sosial.
"Saya dorong membuat filantropi sebagai lifestyle. Caranya bagaimana? Membangun literasi," katanya.
Menurut Saidah, pelajar perlu diberi pengalaman langsung menjalankan aktivitas filantropi, termasuk mengenal mustahik dan memahami proses penyaluran bantuan.
"Anak-anak sekolah harus diajarkan untuk mengembangkan filantropi. Mereka kita literasi, kita ajari bagaimana menjadi amil, bagaimana bertemu mustahik. Mereka sendiri yang menyerahkan bantuan kepada mustahik," tuturnya.
Selain membangun gerakan di tingkat masyarakat, Saidah mendorong perguruan tinggi di Makassar ikut terlibat. Kampus dinilai dapat memperkaya gagasan sekaligus mengembangkan konsep Kota Filantropi dari perspektif akademik.
"Saya minta bekerja sama dengan kampus untuk me-launching gagasan Pak Wali di tingkat perdebatan para intelektual," imbuhnya.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menegaskan gagasan Kota Filantropi Nasional harus menjadi gerakan bersama seluruh lapisan masyarakat. Potensi kebaikan dan kepedulian sosial di tengah warga dinilai sangat besar.
"Menurut saya gerakan filantropi tidak cukup jika hanya digerakkan oleh segelintir orang. Dibutuhkan ekosistem yang mampu mempertemukan potensi para dermawan dengan masyarakat yang membutuhkan bantuan," katanya.
Appi menyebut Kota Filantropi Nasional bukan sekadar slogan, melainkan gerakan sosial yang membutuhkan keterlibatan masyarakat luas. BAZNAS dinilai punya posisi strategis sebagai jembatan antara warga yang ingin berbagi dan warga yang membutuhkan bantuan.
"Kita berharap akan muncul kelompok-kelompok masyarakat yang punya potensi untuk membantu masyarakat," ujarnya.
BAZNAS Pusat melihat model UPZ hingga tingkat pemerintahan paling bawah dapat menjadi referensi untuk dikembangkan di Makassar dengan menyesuaikan karakteristik masyarakat perkotaan.
"Saya bilang sama Pak Ketua BAZNAS Makassar, yuk kita kembangkan Makassar ini menjadi prototipe itu," kata Saidah.