MAKASSAR — Rasa syukur menyelimuti prosesi peresmian Masjid Baitul Aqsha yang ditandai dengan pemotongan pita. Appi hadir bersama Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Sulawesi Selatan, Mayjen TNI (Purn) Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki, serta Abd. Wahid Ismail selaku pemilik tanah wakaf.
Usai seremoni, rangkaian acara dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti, penanaman pohon di halaman masjid, dan salat Dzuhur berjamaah. Appi tampak berdampingan dengan jajaran pemerintah, tokoh masyarakat, serta warga setempat dalam ibadah tersebut.
Di hadapan jamaah, Appi menyampaikan apresiasi mendalam kepada Abd. Wahid Ismail. Ia menilai langkah mewakafkan lahan untuk kepentingan ibadah adalah amal jariyah yang tak ternilai.
Menurut Appi, fungsi masjid tidak boleh berhenti pada tempat salat lima waktu. Gedung ini semestinya berkembang menjadi simpul pembinaan umat, ruang pendidikan, dan motor pemberdayaan masyarakat.
“Masjid bukan hanya bangunan yang megah, tetapi tempat membangun peradaban. Kami berharap masjid ini menjadi tempat menuntut ilmu, menyelesaikan persoalan sosial kemasyarakatan, menjadi ruang interaksi, sekaligus wadah menyiapkan generasi Qurani di masa depan,” ujar Appi dalam sambutannya.
Pesan yang paling menonjol dari sambutan Appi justru ditujukan untuk anak-anak. Ia secara khusus meminta pengurus dan jamaah bersabar ketika melihat anak-anak berlarian di pelataran atau serambi masjid.
Appi mengingatkan bahwa bentakan keras justru akan menanamkan rasa takut. Anak yang kerap diusir bisa kehilangan rasa nyaman dan enggan menginjakkan kaki kembali ke rumah ibadah saat beranjak dewasa.
“Tolong kalau ada anak-anak kecil lari-lari di masjid jangan dimarahi. Kalau dimarahi, mereka akan trauma untuk datang. Sangat rugi kita kalau tidak ada lagi anak-anak yang mau datang ke masjid,” katanya.
Ia berharap Masjid Baitul Aqsha mampu menjadi ruang ramah bagi semua kalangan. Anak-anak, sebagai generasi penerus umat, harus merasa memiliki masjid sejak usia dini.
Pada kesempatan yang sama, Appi menyampaikan kabar positif tentang iklim keberagaman di ibu kota Sulawesi Selatan. Indeks toleransi beragama Kota Makassar dilaporkan meningkat signifikan dari peringkat ke-54 menjadi peringkat ke-9 secara nasional.
Lonjakan peringkat ini disebut sebagai bukti komitmen Pemerintah Kota Makassar membangun lingkungan yang aman dan inklusif. Appi menekankan bahwa capaian tersebut adalah hasil kerja kolektif seluruh elemen masyarakat.
Ia berharap prestasi ini terus terjaga lewat budaya gotong royong dan saling menghormati. Peresmian Masjid Baitul Aqsha diharapkan menjadi salah satu langkah nyata memperkuat fungsi masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, kegiatan sosial, sekaligus ruang membangun karakter generasi muda di Kota Makassar.