SULAWESI SELATAN — iPhone Ultra akhirnya akan menjadi produk resmi Apple di segmen ponsel lipat. Kehadirannya memang tertunda lama, tetapi bocoran yang beredar menunjukkan Apple menyiapkan tiga fitur kunci yang dirancang untuk menjawab kelemahan produk sejenis dari kompetitor. Alih-alih sekadar ikut tren, Apple tampaknya ingin menetapkan standar baru untuk kategori ini.
Berdasarkan laporan dari berbagai sumber, berikut tiga hal yang paling dinantikan dari iPhone Ultra:
Samsung meluncurkan ponsel lipat pertamanya pada 2019, dan sejak saat itu bekas lipatan di tengah layar selalu menjadi kompromi desain yang sulit dihindari. Apple dikabarkan menjadikan penghilangan bekas lipatan ini sebagai salah satu tujuan utama pengembangan iPhone Ultra.
Informasi dari pembocor menyebutkan, bekas lipatan mungkin masih bisa terlihat sangat samar pada sudut pandang tertentu dengan pencahayaan spesifik. Namun secara umum, layar bagian dalam iPhone Ultra saat terbuka akan tampak mulus tanpa bekas lipatan yang mengganggu. Ini akan menjadi lompatan signifikan dibandingkan pengalaman menggunakan ponsel lipat yang ada di pasaran saat ini.
Ponsel lipat sering kali menghadapi dilema: jika dibuat terlalu tipis, performa dan daya tahan baterai bisa terpengaruh. Apple dikabarkan telah menemukan jalan keluarnya, dengan menjadikan iPhone Air tahun lalu sebagai batu loncatan untuk mencapai desain ultra-tipis tanpa mengorbankan hal-hal penting.
iPhone Ultra memang diperkirakan tidak akan memiliki daya tahan baterai sebaik iPhone 18 Pro Max. Meski begitu, kombinasi spesifikasi baterai fisik dan efisiensi daya dari chip A20 Pro serta modem C2 diyakini mampu memberikan ketahanan yang memadai untuk penggunaan harian. Sistem pendingin vapor chamber juga akan disertakan untuk memastikan performa A20 Pro tetap stabil.
Ketahanan engsel adalah salah satu faktor terpenting dalam ponsel lipat. Untuk iPhone Ultra, Apple dikabarkan akan menggunakan liquid metal pada bagian engselnya. Teknologi material ini sebenarnya telah dilisensikan Apple sejak lebih dari 15 tahun lalu.
Pada awal 2010-an, liquid metal sering diprediksi akan membantu membuat iPhone lebih tipis dan ringan. Bahkan, sejak 2010 sudah ada referensi bahwa teknologi ini bisa mendukung pengembangan ponsel lipat Apple. Kini, prediksi tersebut tampaknya akan menjadi kenyataan. Penggunaan liquid metal diharapkan membuat engsel iPhone Ultra lebih tahan lama, mulus saat dibuka-tutup, dan mampu bertahan dalam penggunaan berat dalam jangka panjang.
Apple sebenarnya bisa saja merilis ponsel lipat lebih awal. Namun, keputusan untuk menunggu menunjukkan bahwa perusahaan ingin menghadirkan produk dengan kualitas yang sesuai standar mereka. Dengan tiga fitur unggulan ini, iPhone Ultra tampaknya akan menjadi pesaing serius di segmen ponsel lipat premium.
Bersamaan dengan persiapan peluncuran, Apple juga diketahui tengah memasarkan sejumlah aksesori pendukung. Beberapa di antaranya adalah AirPods Pro 3 yang kini dijual dengan harga diskon US$199 (sekitar Rp 3,3 juta) dari harga normal US$249, serta AirTag 2 dalam paket empat unit seharga US$79 (sekitar Rp 1,3 juta) dari harga normal US$99. Tersedia juga car mount MagSafe, casing baterai AirTag berdaya tahan 10 tahun, dan adaptor daya USB-C 100W.
iPhone Ultra jelas bukan untuk semua orang, terutama bagi yang menginginkan ponsel lipat dengan harga terjangkau. Produk ini menyasar pengguna yang mengutamakan kualitas premium, daya tahan, dan inovasi desain tanpa kompromi yang selama ini sulit ditemukan pada ponsel lipat lain.