Karang Taruna Makassar Siap Jadi Motor Penggerak Pilah Sampah, Bangun 4 Titik TEBA di Tello Baru

Penulis: Luqman Arif  •  Jumat, 07 Agustus 2026 | 17:28:48 WIB
Karang Taruna Makassar membangun empat titik Tempat Edukasi Buang Sampah Organik (TEBA) di Tello Baru untuk mengolah sampah organik.

MAKASSAR — Organisasi kepemudaan Karang Taruna Kota Makassar memastikan diri berada di garda terdepan mengawal kebijakan pemkot terkait darurat sampah. Ketua Karang Taruna Kota Makassar, Muhammad Zulkifli, menyebut perubahan sistem pengelolaan sampah di ibu kota Sulawesi Selatan ini sudah tidak bisa ditunda lagi.

“Tentu kami sangat mendukung program pemilahan sampah, karena harus mulai dari kesadaran. Yang paling utama adalah mengedukasi masyarakat bahwa cepat atau lambat, suka atau tidak suka, kita memang sudah berada pada fase ini,” ujarnya di Balai Kota Makassar, Kamis (6/8/2026).

Ancaman Sanksi dan Penyegelan TPA Tamangapa

Zulkifli mengingatkan bahwa kebijakan ini lahir dari kondisi genting. Ia menyebut Kota Makassar nyaris terkena sanksi dan sempat hampir dilakukan penyegelan atas praktik pengelolaan sampah yang tidak sesuai aturan.

“Kalau itu benar terjadi, tentu semua pihak akan merasakan dampaknya. Karena itu kita harus siap menghadapi perubahan ini,” katanya.

Menurutnya, kebijakan pemilahan sampah dari sumber sejalan dengan arahan Kementerian Lingkungan Hidup untuk menghentikan praktik open dumping. Pemkot telah menerbitkan Surat Edaran dan Instruksi Wali Kota sebagai dasar hukum penerapan sistem baru tersebut.

Empat Titik TEBA di Tello Baru: Solusi dari Akar Rumput

Alih-alih hanya mengkritik, Zulkifli memilih menghadirkan solusi nyata di lingkungannya. Ia membangun empat titik Tempat Edukasi Buang Sampah Organik (TEBA) di wilayah Tello Baru memanfaatkan gorong-gorong beton sebagai media pengolahan sampah organik.

“Saya membantu membuat empat titik TEBA di wilayah saya. Saya minta warga menaruh sisa makanan di situ, kemudian pemilik sapi bisa memanfaatkannya sebagai pakan. Dengan cara sederhana seperti ini, sampah organik tidak lagi dibuang ke TPA,” jelasnya.

Selain TEBA, ia juga menyediakan tandon air berkapasitas 2.000 hingga 3.000 liter sebagai fasilitas pendukung pengelolaan sampah di lingkungan warga. Langkah ini disebutnya sebagai bentuk konkret gotong royong yang dibutuhkan saat ini.

Mengubah Kebiasaan Lama, Bukan Sekadar Proyek

Zulkifli menilai inti persoalan sampah di Makassar adalah kebiasaan warga yang terbiasa mencampur semua jenis sampah karena TPA masih menerima semuanya. Padahal, pemilahan sejak dari rumah hanya soal membiasakan diri membedakan sampah organik, anorganik, dan residu.

“Ini hanya soal mengubah kebiasaan. Dulu semua sampah dicampur, sekarang tinggal dipisahkan menjadi organik, anorganik, dan residu,” tuturnya.

Ia meminta seluruh pengurus Karang Taruna di tingkat kecamatan dan kelurahan meniru langkah serupa. Bahkan, ia mengarahkan agar dana kegiatan organisasi dialihkan untuk membeli sarana pengelolaan sampah seperti TEBA atau gorong-gorong beton.

“Saya sampaikan kepada anak-anak Karang Taruna, daripada membuat proposal kegiatan yang kurang bermanfaat, lebih baik dananya digunakan membeli TEBA, gorong-gorong, atau fasilitas lain yang bisa membantu masyarakat mengelola sampah,” saran ketua BMI itu.

Menyoal Sikap Saling Menyalahkan di Tengah Darurat

Zulkifli menyayangkan masih banyak pihak yang sibuk mengkritik dan menghujat kebijakan pemkot di tengah kondisi darurat. Menurutnya, energi tersebut lebih berguna untuk mencari jalan keluar bersama.

“Saat ini orang-orang hanya bisa mengkritik dan menghujat. Itu bukan solusi. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana bersama-sama keluar dari persoalan ini. Gotong royong dan kerja sama jauh lebih dibutuhkan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Harian Karang Taruna Kota Makassar, Rijal Djamal, menyebut pertemuan dengan Wali Kota Munafri Arifuddin menjadi momentum menyelaraskan visi organisasi dengan arah pembangunan pemerintah kota. Audiensi tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Sosial dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Makassar.

Reporter: Luqman Arif
Sumber: celoteh.online This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top