Alliance Française Makassar bersama mitra Prancis dan Indonesia menggelar Rendez-Vous Rasa 2026 – France Indonesia Gastronomy di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, dengan barongko sebagai salah satu kuliner yang mencuri perhatian. Kegiatan itu menghadirkan Chef Stéphane Carrade, peraih dua bintang Michelin, bersama Chef Eko Hadiwijaya dan Chef Natalia Tanyadji. Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham menilai kolaborasi ini menjadi pintu masuk memperkenalkan kuliner khas daerah ke perspektif gastronomi global.
MAKASSAR — Rendez-Vous Rasa 2026 – France Indonesia Gastronomy mempertemukan tradisi kuliner Bugis-Makassar dengan teknik gastronomi Prancis di Kota Makassar. Barongko, kudapan tradisional berbahan dasar pisang, tampil sebagai salah satu sajian yang paling disorot dalam ruang kolaborasi budaya tersebut.
Acara ini digelar Alliance Française Makassar bersama mitra Prancis dan Indonesia. Hadir dalam kegiatan itu Chef Stéphane Carrade yang meraih dua bintang Michelin, Chef Eko Hadiwijaya alumnus Le Cordon Bleu Paris, serta Chef Natalia Tanyadji pemilik Mama Toko Kue.
Barongko Jadi Pintu Inovasi Kuliner Lokal
Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham menyebut barongko sebagai makanan tradisional yang terbuka untuk dikembangkan. Menurutnya, sentuhan baru bisa menyentuh sisi rasa, kemasan, hingga cara penyajian.
"Barongko ini merupakan makanan tradisional kami. Mudah-mudahan dari sini muncul ide dan gagasan baru, apakah dari rasanya, kemasannya atau cara penyajiannya, sehingga bisa menjadi makanan yang lebih praktis dan bisa dinikmati oleh semua kalangan," ujar Aliyah saat menghadiri acara tersebut di Makassar, Kamis.
Aliyah menilai pertemuan tradisi gastronomi Makassar dan Prancis menjadi momentum menciptakan inovasi tanpa menghilangkan identitas kuliner lokal. Ia menyoroti potensi barongko agar lebih praktis dan dapat dinikmati masyarakat luas, termasuk wisatawan.
Dorong Jejaring Chef dan Alumni Sekolah Kuliner Internasional
Pemerintah Kota Makassar mendorong keterlibatan para chef serta alumni sekolah kuliner internasional yang ada di Makassar. Mereka diharapkan membangun jejaring dan melahirkan kreasi kuliner baru.
"Kita punya banyak alumni sekolah kuliner internasional di Makassar. Mereka bisa dikumpulkan dan diajak berdiskusi untuk melahirkan ide dan kreativitas baru, sehingga tercipta kuliner hasil kolaborasi Makassar dan Prancis," kata Aliyah.
Menurutnya, kolaborasi itu dapat menjadi pintu masuk memperkenalkan kuliner khas Makassar dalam perspektif gastronomi global.
Gastronomi sebagai Penguat Identitas dan Ekonomi Kreatif
Bagi Pemkot Makassar, pengembangan gastronomi tidak hanya berkaitan dengan makanan. Aspek ini menjadi bagian upaya memperkuat identitas budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan peluang promosi daerah.
Melalui momentum Rendez-Vous Rasa 2026, Aliyah berharap kuliner khas Makassar seperti barongko terus dikembangkan dengan tetap mempertahankan karakter tradisionalnya. Ia juga mengharapkan daya tarik dan nilai ekonomi kuliner daerah semakin luas.
Aliyah berharap kolaborasi tersebut memberi dampak lebih luas bagi sektor pariwisata, ekonomi kreatif, serta pelaku usaha kuliner di Kota Makassar.