Makassar bukan cuma pintu gerbang Indonesia timur. Kota ini, bersama daerah lain di Sulawesi Selatan, menyimpan warisan kuliner yang sudah diakui lintas generasi. Bagi perantau atau wisatawan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Bugis-Makassar, tujuh hidangan ini adalah pintu masuk untuk memahami selera lokal yang berani dan kompleks.
Dari pagi yang dimulai dengan semangkuk kuah daging kental hingga malam yang ditutup dengan es manis segar, berikut daftar kuliner yang tidak boleh kamu lewatkan. Semua berdasarkan pengalaman langsung dan obrolan dengan pedagang di beberapa titik di Makassar dan sekitarnya.
Coto Makassar bukan sekadar sup. Kuahnya yang pekat dan gelap berasal dari racikan kacang tanah yang dihaluskan bersama rempah seperti lengkuas, serai, dan jahe. Daging yang digunakan biasanya campuran jeroan sapi—mulai dari hati, paru, hingga babat—yang direbus hingga empuk.
Yang membedakan coto asli dengan versi di luar daerah adalah bumbu tauco yang memberikan rasa asin-gurih khas. Di Makassar, coto paling enak dinikmati pagi hari bersama ketupat yang dipotong kecil, ditaburi bawang goreng, dan diperas jeruk nipis. Beberapa tempat legendaris di sekitar Jalan Sultan Alauddin dan Jalan Urip Sumoharjo selalu ramai sebelum jam sembilan pagi.
Namanya memang sop, tapi cara makannya beda. Sop Saudara disajikan dengan dua jenis daging: daging sapi dan jeroan yang diiris tipis, lalu disiram kuah kaldu bening yang ringan. Uniknya, kamu bisa memilih sendiri level pedas dengan menambahkan sambal yang sudah disediakan.
Biasanya sop ini dimakan dengan buras—mirip lontong tapi dibungkus daun pisang dan dikukus lebih lama. Teksturnya lebih padat dan aromanya lebih harum. Tempat-tempat di sekitar Pasar Butung atau Jalan Kandea terkenal punya racikan sop saudara yang sudah puluhan tahun bertahan.
Konro bakar adalah iga sapi yang sebelumnya direbus dalam bumbu khas Makassar: keluak, kemiri, dan rempah lainnya. Proses perebusan bisa memakan waktu berjam-jam sampai daging terlepas dari tulang. Baru setelah itu dibakar sebentar di atas bara api untuk memberikan efek smoky.
Rasanya legit, sedikit pahit dari keluak, dan gurih. Biasanya disajikan dengan saus kacang yang lebih kental dari sate pada umumnya. Kalau kamu mampir ke kawasan Pantai Losari atau pusat kota, banyak warung yang menyajikan konro bakar sebagai menu andalan malam hari.
Pallubasa sering dianggap versi lebih kaya dari coto. Kuahnya juga dari kacang tanah, tapi ditambah santan dan kunyit, sehingga warnanya lebih kuning dan rasanya lebih creamy. Isiannya juga lebih banyak: daging, jeroan, dan kadang ditambah telur rebus.
Pallubasa biasanya disajikan dalam mangkuk tanah liat agar tetap panas. Taburan seledri, bawang goreng, dan jeruk nipis wajib ada. Makanan ini cocok untuk cuaca dingin atau saat hujan turun di Makassar. Beberapa pedagang di Jalan Sungai Sadang atau Jalan Tamalate sudah menjual pallubasa sejak era 1980-an.
Mie titi unik karena mienya digoreng garing seperti kerupuk, lalu disiram kuah kental berisi daging, udang, dan sayuran. Teksturnya kontras: renyah di luar, lembut setelah terkena kuah. Ini bukan mie basah biasa.
Awalnya mie titi populer di kalangan pelajar dan mahasiswa karena porsinya besar dan harganya bersahabat. Di Makassar, kamu bisa menemukan mie titi di banyak tempat, mulai dari kaki lima di Jalan Boulevard hingga warung tenda di sekitar Kampus Universitas Hasanuddin.
Pisang epe adalah jajanan jalanan paling ikonik di Makassar. Pisang kepok dibakar di atas bara api, lalu dipipihkan dengan alat kayu—itu sebabnya disebut "epe" yang berarti "pipih" dalam bahasa Makassar. Setelah itu, pisang disiram saus gula merah kental yang kadang dicampur sedikit asam jawa.
Ada dua varian: original dan topping durian. Kalau kamu suka rasa manis legit, pilih yang original. Tapi kalau ingin sensasi lebih kuat, durian bisa jadi pilihan. Tempat paling terkenal berjejer di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, dekat Pantai Losari, terutama mulai sore hari.
Es pisang ijo adalah hidangan penutup yang sudah mendunia. Pisang raja dibungkus adonan tepung beras yang diwarnai hijau dari pasta pandan, lalu dikukus. Setelah dingin, pisang ijo disajikan dengan es serut, sirup merah, susu kental manis, dan bubur sumsum dari tepung beras.
Kombinasi rasa manis, gurih dari santan, dan dingin dari es bikin ketagihan. Di Makassar, es pisang ijo bisa ditemukan di banyak depot, tapi beberapa yang legendaris ada di Jalan Banda dan Jalan Kartini. Porsi satu mangkuk biasanya cukup mengenyangkan.
Apa beda Coto Makassar dan Pallubasa?
Pallubasa menggunakan santan dan kunyit, sementara coto tidak. Pallubasa juga lebih kental dan creamy, sedangkan coto lebih pekat dari kacang tanah tanpa santan.
Apakah semua kuliner Sulawesi Selatan pedas?
Sebagian besar tidak pedas secara default. Tapi hampir semua tempat menyediakan sambal atau cabe terpisah. Kamu bisa mengatur sendiri tingkat kepedasannya.
Kapan waktu terbaik mencoba kuliner ini?
Coto dan pallubasa paling nikmat pagi hingga siang. Konro bakar dan pisang epe lebih populer sore hingga malam. Es pisang ijo cocok kapan saja, terutama siang hari saat cuaca panas.
Apakah ada versi vegetarian dari kuliner ini?
Sebagian besar berbasis daging sapi dan jeroan. Belum ada versi vegetarian yang populer. Tapi untuk es pisang ijo dan pisang epe, jelas aman untuk non-daging.
Berapa kisaran harga untuk satu porsi?
Harga bervariasi tergantung tempat dan porsi. Cek langsung ke tempatnya karena harga bisa berubah. Pastikan bertanya sebelum memesan.
Kuliner Sulawesi Selatan bukan cuma soal rasa, tapi juga soal cerita dan proses. Setiap mangkuk coto atau sepiring konro bakar menyimpan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Kalau kamu mampir ke Makassar, jangan buru-buru pergi sebelum mencoba setidaknya tiga dari tujuh hidangan di atas. Rasakan sendiri kenapa makanan ini bertahan puluhan tahun tanpa lekang waktu.