SULAWESI SELATAN — CWA mengajukan tuduhan praktik perburuhan tidak adil (unfair labor practice) terhadap Microsoft ke National Labor Relations Board (NLRB) di Amerika Serikat. Tak hanya di AS, CWA Canada juga mengambil langkah hukum serupa terhadap raksasa teknologi tersebut di Kanada. Gugatan ini menuduh Xbox melakukan perundingan dengan itikad buruk, tindakan koersif, pengingkaran kontrak, dan gagal memberikan pemberitahuan kepada karyawan.
Frank Arace, Wakil Presiden CWA District 9, menegaskan bahwa para pekerja yang di-PHK tidak boleh diperlakukan sebagai barang sekali pakai. "Kami di sini untuk mengatakan dengan tegas: Para pekerja itu tidak akan diperlakukan sebagai barang yang bisa dibuang," ujarnya. Arace menambahkan bahwa Microsoft sebenarnya memiliki dana yang cukup untuk mendukung tim Xbox dan mencegah PHK, namun lebih memilih mengalokasikan uangnya ke tempat lain.
Pada 6 Juli lalu, Microsoft mengumumkan pemotongan 1.600 pekerjaan di divisi Xbox secara langsung. Perusahaan juga berencana memangkas 1.600 karyawan lagi selama tahun fiskal mendatang. PHK ini menghantam sejumlah studio ternama seperti Activision, Blizzard, King, Mojang, Xbox Game Studios, dan ZeniMax yang menaungi Arkane, Bethesda, id Software, MachineGames, dan ZeniMax Online.
Di hari yang sama, Microsoft juga menjual empat studio Xbox—Compulsion Games, Double Fine, Ninja Theory, dan Undead Labs. Bahkan, kabarnya Arkane sedang dipertimbangkan untuk ditutup. Di luar divisi Xbox, sebanyak 3.200 orang juga terkena PHK pada hari yang sama.
CWA Canada secara spesifik mewakili pekerja Bethesda di Montreal. Serikat pekerja mengungkapkan bahwa para karyawan yang menggarap franchise gim sukses seperti Fallout dan The Elder Scrolls sama sekali tidak mendapat pemberitahuan sebelumnya. Mereka tidak tahu mengapa atau bagaimana mereka menjadi sasaran PHK, dan khawatir dengan dampak negatif terhadap gim yang sedang mereka kerjakan.
Simon Prefontaine, mantan karyawan Bethesda yang kini menjadi organizer serikat pekerja, menyatakan bahwa pihaknya siap melakukan segala upaya untuk memulangkan anggotanya bekerja. "Pengacara kami di AS dan Kanada menemukan PHK ini ilegal dan karena itu mengajukan tindakan praktik perburuhan tidak adil terhadap Microsoft di kedua sisi perbatasan," kata Prefontaine kepada Game Developer.
Sebelum pengumuman PHK, anggota serikat Xbox secara terbuka menuntut Microsoft melakukan negosiasi yang transparan dan beritikad baik. Mereka menuduh perusahaan secara rutin mengabaikan proposal serikat pekerja, salah mengelola sumber daya, dan mengulur-ulur waktu dalam memberikan perlindungan pekerja. Pada Rabu pekan lalu, karyawan Xbox di enam lokasi studio di AS dan Kanada menggelar aksi protes bertajuk "Save Our Devs" sebagai bentuk penolakan terhadap PHK massal tersebut.
CWA sendiri mewakili ratusan karyawan di studio Xbox di AS dan Kanada, serta total 3.500 orang di seluruh industri gim video. Upaya serikat pekerja di sektor gim ini mulai menggeliat sejak akhir 2021, dengan studio-studio Microsoft menjadi pionir di ranah gim AAA.