Makassar dan kota-kota lain di Sulawesi Selatan bukan pasar kuliner yang mudah. Warung kaki lima, kafe modern, hingga restoran Padang saling beradu. Saya melihat sendiri bagaimana banyak pelaku usaha baru bertahan hanya beberapa bulan karena mengabaikan satu hal mendasar: karakter konsumen di sini berbeda.
Orang Sulsel dikenal royal terhadap makanan, tapi juga kritis. Coto Makassar, pallubasa, pisang epe — semua punya standar rasa yang sudah mendarah daging. Kalau Anda tidak bisa menyamai atau memberikan tawaran yang lebih menarik, usaha akan sulit berkembang. Berikut lima pendekatan yang bisa langsung diterapkan.
Banyak pendatang mengira orang Sulsel suka makanan super pedas. Faktanya, lidah di sini lebih akrab dengan rasa gurih kuat dari santan, rempah seperti lengkuas dan serai, serta sentuhan asam. Coto misalnya, tidak pedas — kekuatannya ada di kuah kental yang kaya kacang dan jeroan.
Kalau Anda membuka usaha mi ayam atau bakso, sesuaikan bumbu. Tambahkan elemen lokal seperti daun kemangi atau sambal roa yang khas dari Minahasa, tapi sudah populer di Makassar. Jangan memaksakan rasa Jawa atau Sumatera mentah-mentah. Adaptasi adalah kunci, bukan penggantian total.
Di Sulsel, khususnya Makassar, arus lalu lintas dan kebiasaan nongkrong warga menentukan. Jalan Sultan Alauddin, Jalan Ahmad Yani, atau area sekitar Pantai Losari selalu ramai. Tapi biaya sewa di sana tinggi. Alternatifnya, cari lokasi di perumahan padat seperti daerah Antang, Tamalanrea, atau kompleks kampus.
Mahasiswa dan pekerja kantoran adalah target utama. Mereka butuh tempat yang buka pagi untuk sarapan atau sore untuk camilan. Perhatikan juga akses parkir. Warga Makassar malas jalan kaki jauh dari mobil ke tempat makan. Kalau parkir sempit, mereka akan lewat begitu saja.
Sulsel punya kalender keramaian sendiri. Mulai dari perayaan Maulid Nabi yang dirayakan besar-besaran di banyak kampung, hingga acara pernikahan adat Bugis-Makassar yang bisa berlangsung berhari-hari. Saat momen seperti ini, permintaan kue tradisional seperti barongko, onde-onde, atau kue lapis meningkat drastis.
Kalau usaha Anda bergerak di bidang kue atau katering, siapkan stok lebih banyak pada bulan-bulan tertentu. Saya pernah melihat penjual kue lapis di Pasar Terong, Makassar, kebanjiran pesanan saat musim pernikahan tiba — omzetnya bisa naik tiga kali lipat. Jangan lewatkan juga momen libur Idulfitri dan tahun baru, ketika warga mudik atau piknik ke Pantai Bira dan Malino.
Warga Sulsel jago menghitung nilai. Mereka tahu persis berapa porsi coto biasanya dihargai, berapa besar porsi konro yang pantas. Kalau Anda menjual seporsi nasi campur dengan harga lebih mahal dari warung sebelah tanpa alasan jelas, mereka akan kabur. Bukan pelit, tapi sadar harga.
Strateginya: beri porsi sedikit lebih besar dari rata-rata, atau tambahkan lauk pelengkap seperti sambal dan lalapan gratis. Biaya bahan baku di Sulsel relatif stabil karena banyak komoditas lokal — gunakan itu sebagai keunggulan. Jangan pelit pada bumbu. Satu sendok ekstra sambal bisa membuat pelanggan kembali lagi.
Orang Makassar aktif di Instagram dan TikTok. Mereka suka mereview makanan sebelum datang. Foto yang menarik, video proses memasak, atau testimoni pelanggan langsung bisa mendatangkan kerumunan dalam semalam. Tapi ini ada triknya: jangan hanya pasang foto makanan. Tunjukkan juga lokasi yang jelas, jam buka (meskipun perkiraan), dan suasana tempat.
Gunakan tagar spesifik seperti #KulinerMakassar, #CotoMakassar, atau #MakanDiSulsel. Kolaborasi dengan food blogger lokal juga efektif — mereka biasanya punya basis pengikut setia. Satu ulasan positif dari akun dengan 10 ribu follower bisa lebih berdampak daripada iklan berbayar.
Apakah harus menjual makanan khas Sulsel?
Tidak wajib. Banyak usaha mi ayam, soto, atau ayam geprek yang sukses di sini. Yang penting adalah menyesuaikan rasa dan porsi dengan selera lokal. Jangan terlalu manis atau terlalu asin — orang Sulsel suka keseimbangan gurih dan pedas.
Berapa modal awal yang realistis?
Tergantung skala. Untuk gerobak atau lapak kecil di pinggir jalan, modal bisa mulai dari beberapa juta rupiah. Untuk kafe atau restoran kecil, siapkan dana lebih untuk sewa tempat dan perizinan. Lebih baik mulai kecil dulu, lalu kembangkan setelah tahu pola permintaan.
Bagaimana cara menghadapi pesaing yang sudah besar?
Fokus pada keunikan. Misalnya, buka lebih pagi dari kompetitor, atau sediakan menu yang tidak mereka punya. Pelayanan ramah dan konsistensi rasa juga jadi pembeda. Pelanggan di Sulsel setia pada tempat yang rasanya tidak berubah-ubah.
Apakah izin usaha sulit diurus di Sulsel?
Prosesnya sekarang lebih mudah dengan sistem online melalui OSS (Online Single Submission). Pastikan Anda mengurus izin PIRT untuk makanan kemasan jika ingin menjual produk dalam bentuk bungkusan. Untuk warung biasa, izin sederhana sudah cukup.
Kapan waktu terbaik memulai usaha kuliner di sini?
Awal tahun atau menjelang Ramadan biasanya sepi karena banyak orang fokus pada pengeluaran lain. Sebaliknya, setelah Idulfitri hingga akhir tahun adalah masa ramai. Mulailah beberapa bulan sebelum musim ramai agar sempat membangun nama.
Bisnis kuliner di Sulawesi Selatan bukan sekadar soal modal besar. Konsistensi rasa, pemahaman budaya lokal, dan keberanian mencoba pendekatan baru — itu yang membedakan yang bertahan dari yang gulung tikar. Kalau Anda serius, jangan hanya menjual makanan. Jual juga pengalaman dan kedekatan dengan pelanggan. Di kota seperti Makassar, hubungan personal seringkali lebih berharga daripada diskon besar-besaran.