GOWA — Kepulan asap buatan dan alarm darurat yang tiba-tiba berbunyi sontak mengubah suasana kantor Rudenim Makassar mencekam. Sejumlah pegawai bergegas keluar dengan ekspresi panik, sebelum akhirnya menyadari bahwa itu semua adalah bagian dari simulasi penanganan kebakaran.
Pelatihan Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran serta Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) ini melibatkan sekitar 50 peserta. Mereka terdiri dari pejabat, staf, hingga anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) di lingkungan Rudenim.
Instruktur dari Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Gowa menjadi pengendali utama simulasi. Mereka mengarahkan evakuasi menuju titik kumpul yang telah ditentukan, memastikan alur penyelamatan berjalan sesuai prosedur.
Setelah sesi evakuasi, peserta diajak ke area terbuka untuk latihan pemadaman langsung. Api simulasi dari drum pembakaran disiapkan, dan satu per satu peserta mencoba menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), mulai dari jenis powder hingga CO?.
Di momen inilah perubahan paling nyata terlihat: dari yang sempat ragu, peserta menjadi lebih percaya diri dalam menghadapi situasi darurat. Instruktur juga menjelaskan konsep dasar “Segitiga Api” serta klasifikasi kebakaran agar penanganan tidak dilakukan sembarangan.
Tak hanya pemadaman api, peserta juga dilatih teknik dasar Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K). Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR) dan cara mengevakuasi korban dari area berbahaya menjadi materi utama dalam skenario yang dibuat sedetail mungkin, termasuk simulasi korban pingsan.
Kepala pelaksana kegiatan menyebut simulasi ini bukan sekadar latihan rutin. “Tujuannya agar semua pegawai tidak hanya tahu teori, tapi juga siap secara mental dan tindakan jika benar-benar menghadapi situasi darurat,” demikian penjelasan dalam kegiatan tersebut.
Seluruh rangkaian simulasi dinyatakan berjalan lancar tanpa insiden nyata. Namun, seluruh peserta merasakan bagaimana rasanya berada dalam situasi krisis—mulai dari kepanikan awal hingga proses evakuasi yang terkendali.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bukan hanya soal alat, tetapi juga soal refleks, koordinasi, dan ketenangan dalam menghadapi situasi yang tidak terduga.