Computex 2026 Tunjukkan Batas Antara Perangkat Gaming dan Produktivitas Mulai Kabur

Penulis: Nurul Huda  •  Kamis, 04 Juni 2026 | 01:25:31 WIB
Monitor Asus ProArt terbaru hadir dengan panel QD-OLED dan refresh rate 240 Hz untuk kebutuhan profesional dan gaming.

Pameran teknologi Computex 2026 yang berlangsung pekan lalu di Taipei menyuguhkan pemandangan yang tak biasa. Bukan karena gebrakan spektakuler, melainkan karena hampir semua produk baru yang dipamerkan enggan disebut sebagai barang gaming murni. Dari monitor, laptop, keyboard, hingga kursi, semuanya dirancang agar tak kaku di ruang kerja.

Asus, misalnya, membawa jajaran monitor ProArt terbaru. Seri yang selama ini dikenal sebagai perangkat untuk desainer profesional ini kini dibekali panel QD-OLED dengan refresh rate 240 Hz. Padahal spesifikasi setinggi itu biasanya hanya ditemukan di monitor gaming kelas atas. "Ini monitor untuk arsitek dan editor video, tapi gamer mana yang bakal protes dengan 240 Hz?" tulis PC Gamer dalam laporan langsung dari lokasi.

Laptop Tipis yang Sanggup Gaming

Dell juga ikut dalam arus ini. Mereka memperkenalkan XPS 13 anyar yang disebut sebagai jawaban atas MacBook Neo dari Apple. Target pasarnya jelas: mahasiswa dan profesional yang butuh laptop ringan untuk kerja sehari-hari. Namun prosesor Wildcat Lake dan Panther Lake yang disematkan di dalamnya diprediksi mampu menjalankan game modern dengan baik.

Di sisi lain, MSI mengumumkan Prestige N16 Flip AI+. Laptop konvertibel ini ditenagai prosesor RTX Spark buatan Nvidia — chip berbasis Arm yang menggabungkan CPU dan grafis terintegrasi. Klaim Nvidia, performa gaming chip ini setara RTX 5070, jauh di atas prosesor handheld gaming PC saat ini. Perangkat ini jelas tak bisa disebut laptop gaming murni, tapi juga bukan sekadar mesin produktivitas biasa.

Keyboard Tipis, Tapi Punya Rapid Trigger

Keychron, merek yang populer di kalangan enthusiast keyboard mekanik, meluncurkan keyboard magnetic switch ultra-tipis. Desainnya nyaris menyerupai Apple Magic Keyboard, sangat ramping dan elegan. Tapi di balik tampilan minimalisnya, keyboard ini mendukung rapid trigger — fitur yang sangat diincar pemain game kompetitif. Produk ini seolah berteriak ingin dipakai di meja kafe oleh pekerja remote, namun tetap sangar saat digunakan untuk main game.

Kursi gaming pun ikut berubah wajah. Corsair memperkenalkan TC80, kursi yang secara eksplisit disebut pabrikan sebagai "pergeseran dari gaya kursi gaming tradisional". Branding dibuat lebih halus, palet warna lebih kalem, dan nuansa keseluruhan lebih profesional. "TC80 tak akan terlihat aneh di ruang rapat direksi," kata Corsair dalam pernyataan resmi.

Strategi Bertahan di Tengah Daya Beli Menurun

Fenomena ini bukan sekadar iseng. Jacob Ridley, editor PC Gamer yang meliput langsung Computex, mencatat bahwa tren ini sudah terlihat sejak dua tahun lalu. Ia mengingat kunjungannya ke kantor pusat SteelSeries di Kopenhagen. Saat itu SteelSeries sudah mulai menekankan bahwa pengguna tak lagi memakai keyboard gaming hanya untuk bermain, tetapi juga bekerja, bepergian, dan bersantai.

"Perusahaan mulai sadar pada kenyataan yang sudah ada sejak dulu: orang menggunakan produk untuk banyak hal, bukan cuma gaming," tulis Ridley.

Kondisi ekonomi global yang buruk menjadi alasan paling masuk akal. Harga komponen mahal, biaya hidup tinggi, dan daya beli masyarakat menurun. Konsumen kini lebih memilih satu perangkat yang bisa dipakai untuk semua aktivitas ketimbang membeli alat khusus untuk gaming dan alat lain untuk kerja. Produsen pun menyesuaikan diri. Batas antara perangkat gaming dan perangkat kantor perlahan memudar — dan Computex 2026 menjadi bukti paling nyata dari pergeseran ini.

Reporter: Nurul Huda
Sumber: pcgamer.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top