SULAWESI SELATAN — Kurs rupiah pagi ini nyaris menyentuh level psikologis Rp17.900 per dolar AS. Posisi ini merupakan yang terlemah dalam beberapa pekan terakhir, menandakan tekanan jual terhadap mata uang Garuda masih dominan di pasar spot. Pelemahan ini terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi.
Di kawasan Asia, tekanan terhadap dolar AS tidak merata. Ringgit Malaysia menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,25 persen, disusul rupiah yang melemah 0,22 persen. Yuan China juga ikut tertekan 0,05 persen, sementara peso Filipina turun tipis 0,03 persen.
Namun, beberapa mata uang lain justru menguat. Won Korea Selatan memimpin dengan kenaikan 0,11 persen. Yen Jepang, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong juga mencatatkan apresiasi tipis terhadap greenback. Pergerakan yang kontras ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih bersifat spesifik, bukan sekadar sentimen global.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa faktor eksternal menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Eskalasi terbaru konflik di Timur Tengah telah memicu aksi jual aset berisiko di seluruh pasar keuangan global. Kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dari kawasan tersebut mendorong harga komoditas energi naik tajam.
"Eskalasi baru di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap prospek perdamaian dan mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini berpotensi menekan rupiah terhadap dolar AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi pukulan ganda. Di satu sisi, beban impor minyak membengkak sehingga kebutuhan dolar untuk pembelian energi meningkat. Di sisi lain, investor asing cenderung menarik modal dari negara importir minyak seperti Indonesia saat harga komoditas ini melonjak.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Level Rp17.900 menjadi resistance psikologis yang krusial. Jika tembus, bukan tidak mungkin rupiah akan menguji level Rp18.000 dalam waktu dekat, terutama jika tidak ada intervensi signifikan dari Bank Indonesia.
Pelaku pasar kini menanti langkah BI selanjutnya. Apakah otoritas moneter akan kembali menggelontorkan cadangan devisa untuk menahan laju pelemahan, atau justru membiarkan mekanisme pasar berjalan sambil memperkuat sinyal kebijakan.
Bagi investor pasar saham, pelemahan rupiah biasanya menjadi sentimen negatif karena meningkatkan risiko nilai tukar bagi emiten yang memiliki utang dolar atau ketergantungan impor tinggi. Sektor perbankan dan properti kerap menjadi yang paling terpukul. Sementara itu, emiten komoditas tambang dan eksportir justru bisa diuntungkan.
Bagi pelaku bisnis, terutama importir dan perusahaan ritel, pelemahan ini berarti beban biaya bahan baku dan barang jadi akan naik. Tekanan inflasi dari sisi impor pun berpotensi meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Disclaimer: Investasi mengandung risiko. Informasi ini bukan rekomendasi beli atau jual.