BONE — Prof Lukman Arake resmi memimpin IAIN Bone setelah prosesi pelantikan yang digelar beberapa waktu lalu. Sosoknya dikenal luas di kalangan akademisi dan pesantren di Sulawesi Selatan, terutama karena kiprahnya membesarkan Ponpes Al Ikhlas Ujung.
Karier akademiknya tidak instan. Sebelum duduk sebagai rektor, ia telah malang melintang di berbagai posisi strategis di lingkungan kampus. Pengalamannya memimpin pondok pesantren menjadi modal kuat untuk mengelola institusi pendidikan tinggi yang berakar pada nilai-nilai keislaman.
Lukman Arake memulai perjalanan intelektualnya dari Pondok Pesantren Al Ikhlas Ujung. Di sana, ia tidak hanya mengajar tetapi juga memegang kendali sebagai pimpinan. Kiprahnya di pesantren inilah yang membentuk karakternya sebagai pemimpin yang dekat dengan tradisi dan komunitas.
Transisi dari pimpinan ponpes ke rektor IAIN Bone bukanlah lompatan tanpa dasar. Ia telah lebih dulu mengabdi sebagai dosen dan menjabat sejumlah posisi struktural di kampus yang sama. Pengalaman ini memberinya pemahaman utuh tentang denyut nadi akademik dan administrasi perguruan tinggi.
Proses seleksi rektor di lingkungan PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) berlangsung ketat. Para kandidat harus melewati serangkaian uji akademik, wawancara, dan presentasi visi-misi di hadapan senat universitas serta Kementerian Agama.
Lukman Arake dinilai memiliki kombinasi ideal antara kapasitas akademik dan pengalaman manajerial. Latar belakangnya sebagai pimpinan pesantren dianggap sebagai nilai tambah, mengingat IAIN Bone memiliki peran strategis dalam mencetak guru dan tenaga pendidik Islam yang berkualitas.
Sebagai rektor, Lukman Arake dihadapkan pada sejumlah agenda besar. Mulai dari peningkatan akreditasi program studi, penguatan riset dosen, hingga perluasan akses pendidikan bagi masyarakat di kawasan timur Indonesia.
“IAIN Bone harus menjadi rumah bagi siapa saja yang ingin mendalami ilmu agama dengan pendekatan modern. Kami tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga pemimpin komunitas,” ujar Lukman dalam salah satu pernyataannya.
Langkah selanjutnya yang dinanti publik adalah bagaimana ia meramu kebijakan yang mampu menjembatani tradisi pesantren dengan tuntutan akademik kontemporer. Kombinasi pengalaman di dua dunia inilah yang diyakini akan membawa warna baru bagi IAIN Bone ke depan.