SULAWESI SELATAN — Tekanan terhadap rupiah masih berlanjut di awal Juni. Berdasarkan data pasar, kurs rupiah terhadap dollar AS tercatat di Rp 17.864 pada pukul 09.38 WIB. Angka ini menunjukkan depresiasi 0,33% dibandingkan posisi sebelumnya.
Yang menarik, pelemahan rupiah kali ini tidak sejalan dengan pergerakan bursa saham. IHSG pada sesi awal perdagangan justru mencatatkan penguatan ke level 6.217. Kondisi ini lazim disebut sebagai fenomena decoupling, di mana aset berisiko seperti saham menguat sementara mata uang lokal justru tertekan oleh kuatnya dollar AS.
Bank-bank nasional telah memperbarui kurs jual dan beli dollar AS untuk transaksi hari ini. Berikut rincian kurs di tiga bank utama yang bisa dijadikan acuan:
Bank Central Asia (BCA)
Catatan: e-Rate BCA berlaku untuk transaksi melalui e-Banking. Untuk nominal tertentu, nasabah disarankan menghubungi cabang untuk mendapatkan kurs khusus.
Bank Mandiri (BMRI)
Kurs special rate berlaku untuk transaksi di atas 25.000 dollar AS atau ekuivalen. Nasabah bisa menghubungi cabang untuk kurs yang mengikat.
Bank Negara Indonesia (BBNI)
Perhatikan selisih antara kurs beli dan jual di masing-masing bank. Spread terlebar terlihat pada produk TT Counter dan Bank Notes, di mana selisihnya mencapai Rp 250 hingga Rp 315 per dollar AS. Artinya, jika Anda membeli dollar lalu menjualnya kembali dalam waktu singkat, potensi kerugian dari selisih kurs ini cukup signifikan.
Untuk transaksi digital via e-Banking, BCA menawarkan spread yang lebih ketat, yakni hanya Rp 20 per dollar AS. Ini menjadi pilihan lebih efisien bagi nasabah yang bertransaksi dalam jumlah kecil hingga menengah.
Bagi importir atau pelaku usaha yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dollar AS, pelemahan rupiah berarti beban biaya yang lebih besar. Sementara bagi eksportir, kondisi ini justru menguntungkan karena penerimaan dalam dollar AS bernilai lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.
Bagi masyarakat umum yang berencana bepergian ke luar negeri, kurs jual di kisaran Rp 17.898 hingga Rp 17.940 per dollar AS menjadi patokan biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli valas.