SULAWESI SELATAN — Kinerja impresif SeaBank di awal 2026 tidak lepas dari ekspansi kredit yang agresif namun tetap terkendali. Hingga kuartal I 2026, bank digital milik Grup Sea ini menyalurkan kredit sebesar Rp34,80 triliun, tumbuh 40,83% secara tahunan dibandingkan Rp24,71 triliun. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh penyaluran ke segmen ritel individual melalui produk direct lending dan kemitraan dengan perusahaan multifinance serta lending partner.
Salah satu kunci profitabilitas SeaBank terletak pada struktur pendanaan yang efisien. Dana Pihak Ketiga (DPK) bank ini melonjak 44,58% menjadi Rp39,1 triliun. Yang paling menarik, porsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) mendominasi hingga 69,10% dari total DPK. Dengan kata lain, SeaBank tidak terlalu bergantung pada deposito berbunga tinggi, sehingga margin bunga bersih bisa lebih terjaga.
Total aset SeaBank pun ikut membengkak 33% secara tahunan menjadi Rp49,7 triliun. Direktur Utama SeaBank Indonesia Sasmaya Tuhuleley menyebut capaian ini sebagai bukti ketangguhan model bisnis bank digital dalam menjawab kebutuhan finansial masyarakat. "Kami akan terus menjaga momentum ini dengan menghadirkan teknologi layanan keuangan, demi menciptakan akses yang lebih luas bagi setiap lapisan masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (21/5).
Ekspansi kredit agresif kerap diikuti risiko kredit macet. Namun SeaBank berhasil menjaga rasio kredit bermasalah secara bruto (Non-Performing Loan/NPL Gross) di angka 1,56%. Angka ini masih jauh di bawah ambang batas aman Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang sebesar 5%.
Dari sisi permodalan, SeaBank juga dalam posisi sangat kuat. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat 21,88% di akhir kuartal I 2026, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Modal yang tebal ini memberi ruang bagi SeaBank untuk terus berekspansi tanpa khawatir melanggar ketentuan capital buffer.
Pencapaian SeaBank menjadi tolok ukur bagi industri perbankan digital di Indonesia. Sejak beberapa tahun terakhir, banyak bank digital gencar mengakuisisi nasabah dengan iming-iming bunga tabungan tinggi. Namun model itu terbukti tidak berkelanjutan karena biaya dana mahal menggerus laba.
SeaBank justru membuktikan bahwa bank digital bisa tumbuh cepat dengan tetap menjaga profitabilitas. Strategi fokus pada dana murah dan kredit ritel yang tersegmentasi menjadi pelajaran berharga. "Setiap angka dalam laporan keuangan ini merepresentasikan kepercayaan nasabah yang kami jaga, komitmen yang kami penuhi, dan nilai yang terus kami ciptakan bersama," pungkas Sasmaya.
Apa yang membedakan SeaBank dengan bank digital lain di Indonesia?
SeaBank mengandalkan ekosistem Grup Sea (Shopee, Garena) untuk menjaring nasabah ritel, sehingga biaya akuisisi nasabah lebih rendah. Selain itu, dominasi dana murah (CASA) di atas 69% membuat biaya bunga jauh lebih efisien dibanding bank digital yang mengandalkan deposito bunga tinggi.
Apakah pertumbuhan kredit SeaBank berisiko tinggi?
Risiko kredit SeaBank relatif terkendali terbukti dari NPL Gross 1,56%. Sebagian besar kredit disalurkan ke segmen ritel dan melalui kemitraan dengan multifinance yang sudah memiliki data credit scoring nasabah. Rasio CAR 21,88% juga menjadi bantalan jika terjadi peningkatan kredit macet di masa mendatang.