Rumah Hijau Denassa di Gowa Lestarikan Ratusan Tanaman Endemik Lewat Edukasi Budaya

Penulis: Oman Sudirman  •  Minggu, 10 Mei 2026 | 17:10:06 WIB
Rumah Hijau Denassa di Gowa melestarikan ratusan tanaman endemik melalui edukasi budaya dan lingkungan.

Rumah Hijau Denassa di Kabupaten Gowa kini menjadi pusat edukasi lingkungan dan budaya bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Kawasan konservasi mandiri ini berhasil menyelamatkan ratusan spesies tanaman langka sekaligus memperkenalkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda. Inisiatif tersebut bermula dari kepedulian terhadap kerusakan ekosistem di wilayah tersebut.

GOWA — Rumah Hijau Denassa (RHD) yang terletak di Kelurahan Borongtala, Kabupaten Gowa, terus memperkuat perannya sebagai pusat edukasi lingkungan. Kawasan ini bukan sekadar taman hijau, melainkan laboratorium alam yang memadukan pelestarian flora dengan nilai-nilai budaya lokal Sulawesi Selatan.

Pendirian RHD berawal dari keresahan terhadap hilangnya tanaman-tanaman endemik yang dulunya akrab dengan kehidupan masyarakat Bugis-Makassar. Darmawan Denassa, sang pendiri, mulai menata lahan keluarga tersebut sejak tahun 2007 dengan menanam kembali berbagai jenis pohon yang mulai langka di pasaran maupun di hutan terbuka.

Bagaimana Proses Penataan Area Konservasi Mandiri Ini?

Proses pengembangan RHD dilakukan secara bertahap melalui pengumpulan bibit dari berbagai pelosok wilayah di Sulawesi Selatan. Setiap tanaman yang ada di kawasan ini tidak hanya diberi label nama ilmiah, tetapi juga penjelasan mengenai fungsinya dalam tradisi dan ritual masyarakat lokal.

Pendekatan ini bertujuan agar pengunjung memahami bahwa menjaga alam identik dengan menjaga identitas budaya. Saat ini, ratusan spesies tanaman, mulai dari jenis kayu-kayuan, buah-buahan langka, hingga tanaman obat, tumbuh subur di area seluas beberapa hektare tersebut.

Penataan lahan juga mengikuti pola ekosistem alami untuk memastikan fauna pendukung seperti burung dan serangga tetap memiliki habitat. Hal ini menjadikan RHD sebagai oase hijau di tengah meningkatnya alih fungsi lahan di wilayah penyangga Kota Makassar.

Metode Edukasi: Belajar dari Alam dan Kearifan Lokal

Sebagai ruang edukasi, RHD menerapkan metode belajar luar ruangan yang interaktif bagi pelajar, mahasiswa, hingga peneliti. Pengunjung diajak menelusuri jalan setapak sambil mengenal karakteristik pohon serta filosofi yang terkandung di balik nama-nama lokal tanaman tersebut.

Salah satu fokus utamanya adalah memperkenalkan kembali konsep hubungan manusia dengan alam yang tertuang dalam pesan-pesan leluhur. Dengan cara ini, edukasi lingkungan terasa lebih dekat dan relevan bagi generasi muda yang mulai berjarak dengan akar budayanya.

Selain pengenalan flora, pengelola juga kerap mengadakan workshop budaya dan literasi bagi masyarakat umum. Aktivitas ini dirancang untuk menumbuhkan rasa kepemilikan warga terhadap kekayaan hayati yang ada di sekitar mereka.

Apa Langkah Pengembangan Rumah Hijau Denassa Selanjutnya?

Ke depan, pengelola terus berupaya memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai instansi pendidikan dan komunitas lingkungan di tingkat nasional. Fokus utamanya tetap pada penyelamatan plasma nutfah dan penyediaan ruang terbuka hijau yang berkualitas bagi publik.

Keberadaan RHD diharapkan mampu menginspirasi munculnya titik-titik konservasi serupa di kabupaten lain di Sulawesi Selatan. Upaya swadaya ini membuktikan bahwa pelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi lokal melalui ekowisata terbatas.

Pengembangan fasilitas pendukung juga terus dilakukan tanpa merusak kontur lahan asli. Dengan konsistensi yang terjaga, Rumah Hijau Denassa kini menjadi rujukan utama bagi siapa saja yang ingin mempelajari harmoni antara manusia, budaya, dan alam semesta.

Reporter: Oman Sudirman
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top