SULAWESI SELATAN — Kawasan karst Gunung Sewu yang membentang di Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan bersiap menjalani evaluasi pra-revalidasi UNESCO Global Geopark pada 24–27 Oktober 2026. Penilaian ini menentukan perpanjangan status warisan geologi dunia yang disandang sejak 2015, mencakup 33 situs dalam bentang seluas 1.802 kilometer persegi. Hasil evaluasi bakal berdampak langsung pada pengelolaan geowisata dan ekonomi warga di tiga kabupaten.
Perangkat Daerah Pengelola Geopark Gunung Sewu Kabupaten Wonogiri memperkuat literasi geologi masyarakat menjelang penilaian. Pada 14 Oktober 2026, program Karst Goes to School digelar di SMK Pracimantoro, disusul sosialisasi konsep geopark di Dusun Mendak, Desa Petirsari, Kecamatan Pracimantoro.
Kegiatan itu melibatkan sejumlah perangkat daerah dan pemangku kepentingan. Tujuannya memperluas pemahaman warga soal nilai kawasan sekaligus mendorong keterlibatan mereka dalam pelestarian.
Status Geopark Lintas Provinsi Pertama di Indonesia
Gunung Sewu memperoleh pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark pada 19 September 2015 di Tottori, Jepang. Kawasan ini menjadi geopark lintas kabupaten dan provinsi pertama di Indonesia.
Dari 33 situs warisan, 30 di antaranya berstatus geosite dan tiga situs nongeologi. Wilayahnya terbagi ke dalam tiga GeoArea yang tersebar di tiga provinsi.
Sebaran 33 Situs di Tiga GeoArea
GeoArea Barat di Gunungkidul menaungi 13 situs. Di dalamnya ada Gunung Api Purba Nglanggeran, Gua Pindul, Luweng Jomblang, dan Kalisuci.
GeoArea Tengah di Wonogiri mencakup tujuh situs, antara lain Gua Sodong, Gua Tembus, dan Pantai Sembukan. Adapun GeoArea Timur di Pacitan memiliki 13 situs, termasuk Pantai Klayar, Gua Gong, Luweng Jaran, serta situs prasejarah Sungai Baksoka dan Song Terus.
Apa Saja yang Dinilai UNESCO
Evaluasi menyoroti tata kelola, partisipasi masyarakat, edukasi, riset, pengembangan berkelanjutan, dan perlindungan situs. Keterlibatan UMKM, kelompok sadar wisata, pemandu lokal, pelaku homestay, dan kuliner ikut diperhitungkan sebagai indikator manfaat ekonomi bagi warga.
Pengelolaan kawasan tidak berhenti pada keragaman geologi. Aspek keanekaragaman hayati dan budaya menjadi fondasi pengembangan geopark sebagai kawasan konservasi, pendidikan, penelitian, dan pariwisata berkelanjutan.
Arti Kartu Hijau dan Kartu Kuning
Hasil evaluasi menentukan status keanggotaan Gunung Sewu di jaringan UNESCO. Kartu Hijau menandakan status diperpanjang empat tahun.
Jika menerima Kartu Kuning, pengelola diberi waktu dua tahun untuk melakukan perbaikan. Bagi traveler, status ini berpengaruh pada program geowisata, kesiapan pemandu lokal, dan kualitas layanan di geosite yang biasa dikunjungi.
Dampak bagi Wisatawan dan Warga Sekitar
Mempertahankan pengakuan UNESCO bukan sekadar prestise. Gunung Sewu memikul tanggung jawab memastikan warisan bumi tetap lestari sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat di tiga kabupaten.
Wisatawan yang berencana menjelajah geosite Gunungkidul, Wonogiri, atau Pacitan sebaiknya memantau hasil evaluasi pada akhir Oktober 2026. Informasi terkini soal jadwal kunjungan dan paket geowisata dapat dikonfirmasi via dinas pariwisata setempat.
Durasi ideal untuk menyusuri kawasan ini minimal tiga hari, memecah perjalanan per GeoArea agar tidak terburu-buru.