MAKASSAR — Buku yang menghimpun pemikiran 27 akademisi, praktisi, dan aktivis muda Indonesia itu dibahas dalam forum terbuka di Fireflies Pattimura. Moderator Rijal Djamal memandu jalannya diskusi yang berlangsung Sabtu (7/11/2026).
Empat pemateri hadir dengan latar berbeda: Herzaky Mahendra Putra selaku penyunting buku dan Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Ray Suryadi Arsyad dari Partai Demokrat, Nurul Annisa yang berprofesi di bidang MC dan public speaking, serta Achi Soleman dari Dinas Pendidikan Kota Makassar.
Mengapa Buku Ini Dibedah di Kota Makassar
Herzaky menyebut bedah buku dirancang sebagai ruang diskusi terbuka. Gagasan tentang kepemimpinan AHY dibicarakan luas dari berbagai sudut pandang, bukan hanya dari satu kubu.
Menurutnya, diskursus kepemimpinan tidak cukup diisi dukungan di media sosial. Pembahasan perlu punya substansi dan memberi manfaat bagi masyarakat.
"Jadi kalau bicara perspektif apa, justru di sinilah kelebihannya kita membuka diskusi seluas-luasnya dan seterang-terangnya dari berbagai sudut dari berbagai perspektif," ujar Herzaky kepada wartawan.
Perbedaan perspektif dinilai memperkaya khazanah pemikiran. Masyarakat bisa memahami kepemimpinan secara lebih mendalam, bukan sekadar ramai oleh suara dukungan dunia maya.
"Kalau ada diskusi atau ada diskursus mengenai itu, bukan hanya ramai oleh mohon maaf suara-suara dukungan di media sosial dan banyaknya pasukan-pasukan di dunia maya tapi tanpa ada substansi," katanya.
Pesan untuk Pemimpin Lain: Kerja Substantif, Bukan Pencitraan
Herzaky berharap pembahasan buku menjadi inspirasi bagi pemimpin lain. Fokusnya kerja substantif, bukan popularitas atau pencitraan diri.
"Sehingga ini bisa menjadi inspirasi bagi pemimpin-pemimpin lain untuk bisa berfokus bukan membentuk pasukan di dunia maya, bukan sibuk dengan pencitraan diri atau memoles apa yang dia lakukan, tapi benar-benar melakukan hal-hal yang substantif dan bermanfaat untuk masyarakat," tambahnya.
Ray Suryadi: AHY Bukan Cuma Bagus Dilihat Mata
Ray Suryadi Arsyad menilai forum itu jadi kesempatan mengambil pelajaran dari perjalanan hidup dan proses transformasi AHY. Keteguhan serta kekuatan mental menghadapi berbagai perubahan jadi sorotan.
Ia berharap pengalaman dalam buku itu jadi bahan pembelajaran masyarakat, khususnya generasi muda Makassar.
"Kita berharap ini semua bisa juga menjadi pelajaran buat seluruh masyarakat Kota Makassar, terutama untuk anak-anak kita ke depan melihat sosok AHY bukan hanya bagus dilihat mata, namun juga memang menjadi rasional ketika beliau menyampaikan sebuah masukan-masukan dan tentu saja gagasan-gagasan yang baik untuk bagaimana pembangunan bangsa kita ke depannya," jelasnya.
Harapan AHY Kembali ke Makassar, Soroti Infrastruktur dan Kereta
Ray juga menyampaikan harapan agar AHY kembali berkunjung ke Makassar. Pembangunan infrastruktur kota ini masih butuh perhatian, terutama konektivitas antarkawasan dan pengembangan moda transportasi.
"Tentu saja kami sangat mengharapkan ya Mas AHY bisa berkunjung kembali ke Kota Makassar melihat bagaimana pembangunan infrastruktur di Kota Makassar juga memerlukan perhatian yang besar, terutama dalam hal mengkoneksikan beberapa wilayah-wilayah kami yang kemudian masih berada di status menengah lah," jelasnya.
Kunjungan itu diharapkan membuka peluang komunikasi soal pengembangan infrastruktur dan konektivitas transportasi, termasuk kemungkinan pengembangan moda transportasi kereta.
Isi Buku: 27 Pemikir Muda, dari Karier Militer hingga Pembangunan
Buku Kepemimpinan AHY: Dalam Beragam Sudut Pandang Tokoh Muda Indonesia menghimpun pemikiran dan pandangan kritis dari 27 akademisi, praktisi, serta aktivis muda Indonesia. Arah kepemimpinan nasional di tengah tantangan zaman jadi tema utama.
Buku itu tidak hanya mengulas perjalanan Agus Harimurti Yudhoyono. Pengalaman kepemimpinannya dijadikan bahan kajian soal nilai, keberanian bertransformasi, dan visi menghadapi kompleksitas persoalan bangsa.
Salah satu aspek yang dibahas adalah keputusan AHY meninggalkan karier militernya untuk memasuki ruang pengabdian publik yang lebih luas. Perjalanan itu dibaca dalam konteks perannya sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat.
Dalam perspektif buku ini, pembangunan tidak semata dimaknai sebagai pembangunan fisik maupun capaian statistik. Pembangunan ditempatkan sebagai bagian dari upaya mewujudkan keadilan, memperkuat konektivitas antarmasyarakat, serta memastikan pemerataan kesempatan bagi seluruh generasi.