“Desa wisata terbaik bukan hanya soal popularitas, tetapi juga daya tarik, amenitas, digitalisasi, kelembagaan, sumber daya manusia, dan ketahanan pengelolaan,” demikian penegasan dari Kementerian Pariwisata melalui Jejaring Desa Wisata (JADESTA) yang menjadi dasar penilaian Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Bagi Anda yang sedang merencanakan liburan, memilih desa wisata di Sulawesi Selatan bisa menjadi pengalaman tak terlupakan untuk menikmati alam sekaligus berinteraksi dengan kehidupan masyarakat lokal.
Pada ADWI 2024, kategori penilaian mencakup berbagai aspek seperti daya tarik, amenitas, digital, kelembagaan dan SDM, serta resiliensi. Dengan kriteria tersebut, berikut beberapa desa wisata terbaik di Sulawesi Selatan yang layak dipertimbangkan untuk kunjungan wisata Anda.
Rammang-Rammang, Maros: Keajaiban Karst dan Sungai
Salah satu desa wisata paling menonjol di Sulawesi Selatan adalah Rammang-Rammang di Maros. Desa ini pernah masuk 75 Besar ADWI 2023 dan memiliki status “Berkembang” menurut data JADESTA. Keunggulan utamanya terletak pada bentang alam karst yang memukau, berpadu dengan sungai, persawahan, dan perkampungan tradisional seperti Kampung Berua, Kampung Laku, serta Kampung Massaloeng yang masing-masing menawarkan karakter wisata berbeda.
Susur sungai menggunakan perahu jolloro menjadi aktivitas utama di sini. Pengunjung dapat menikmati perjalanan menyusuri aliran sungai yang diapit pepohonan nipah dan bakau, serta celah-celah batu karst yang menakjubkan. Selain itu, Rammang-Rammang juga memiliki daya tarik prasejarah dan budaya, di mana Kampung Massaloeng masih mempertahankan kesenian tradisional, sementara situs gua dan peninggalan prasejarah tersebar di kawasan lainnya.
Desa Wisata Andalan, Bulukumba: Pantai, Tebing, dan Tradisi Bahari
Berlokasi di Lembanna, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Desa Wisata Andalan juga masuk 75 Besar ADWI 2023 dan kini berstatus Maju. Daya tariknya sangat beragam, mulai dari Tebing Batu Tongkarayya, Pantai Mandala Ria, Tebing Mattoanging, hingga Gua Purbakala Passea. Lanskap laut dan tebing menjadi kekuatan utama desa ini, memanjakan mata setiap pengunjung yang datang.
Unsur budaya di desa ini juga kuat, dengan aktivitas pembuatan miniatur Pinisi, Tari Salonreng, Pakkarena, serta berbagai atraksi budaya lainnya. Pada ADWI 2023, Desa Wisata Andalan bahkan meraih Juara 3 kategori Suvenir, membuktikan bahwa produk kreativitas masyarakat dapat menjadi pilar penting pengembangan desa wisata.
Desa Wisata Ara, Bulukumba: Kearifan Lokal dan Alam yang Menawan
Masih di Kecamatan Bontobahari, Desa Ara juga menawarkan pesona yang tak kalah menarik. Desa ini pernah masuk 50 Besar ADWI 2021 dan memiliki potensi wisata seperti Tebing Apparalang, Pantai Mandala Ria, serta Gua Passohara. Namun, keunikan Desa Ara tidak berhenti pada keindahan alamnya saja.
Tradisi pembuatan perahu Pinisi, seni ukir Anjong dan Teba, Tari Salonreng Ara, serta sejumlah kesenian lokal menjadi daya tarik budaya yang memperkaya pengalaman wisatawan. Kombinasi alam dan budaya yang dimiliki desa ini menjadikannya pilihan menarik bagi mereka yang ingin lebih dari sekadar berfoto, tetapi juga memahami identitas masyarakat setempat.
Desa Wisata Mattabulu, Soppeng: Sejuknya Dataran Tinggi dan Hutan Pinus
Bagi wisatawan yang menginginkan suasana sejuk, Desa Wisata Mattabulu di Kabupaten Soppeng bisa menjadi pilihan tepat. Tercatat masuk 50 Besar ADWI 2024, desa ini berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Daya tariknya meliputi hutan pinus Lembah Cinta, area camping, aktivitas outbound, kopi lokal, pengolahan gula aren, serta Air Terjun Liu Pangie.
Selain keindahan alamnya, Mattabulu juga memiliki potensi budaya berupa situs sejarah dan kesenian tradisional, sehingga pengalaman wisata tidak hanya bergantung pada lanskap pegunungan semata.
Desa Wisata Latimojong, Enrekang: Petualangan di Kaki Gunung
Terletak di Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang, Desa Wisata Latimojong masuk 500 Besar ADWI 2024 menurut data JADESTA. Lokasinya di kaki Gunung Latimojong yang mencapai ketinggian sekitar 3.478 meter di atas permukaan laut menjadikannya destinasi yang menantang bagi pencinta alam dan aktivitas luar ruang.
Daya tarik yang ditawarkan meliputi camping ground, water tubing, trekking Gunung Latimojong, air terjun, dan kolam renang alami. Wisatawan juga dapat mengenal budaya lokal melalui musik bambu, tradisi Mangdodo, pengolahan kopi, serta kegiatan reboisasi. Perjalanan menuju kawasan ini membutuhkan persiapan fisik dan perlengkapan yang lebih matang dibanding desa wisata dengan aktivitas ringan.
Desa Wisata Bontomarannu, Kepulauan Selayar: Panorama Perbukitan dan Fasilitas Lengkap
Menawarkan karakter berbeda, Desa Wisata Bontomarannu di Kabupaten Kepulauan Selayar memiliki Puncak Tanadoang sebagai daya tarik utama. Menurut JADESTA, kawasan ini menyuguhkan pemandangan perbukitan, udara segar, dan area camping ground seluas sekitar dua hektare. Fasilitas yang tersedia juga relatif lengkap, termasuk homestay, toilet, ruang pertemuan, tempat ibadah, mini restoran, dan toko suvenir.
Dengan kondisi tersebut, Bontomarannu menjadi pilihan ideal bagi wisatawan yang ingin menikmati panorama dari ketinggian tanpa mengorbankan kenyamanan.
Cara Menentukan Desa Wisata yang Paling Sesuai
Tidak ada satu desa wisata yang otomatis paling cocok untuk semua wisatawan. Pilihan sebaiknya disesuaikan dengan tujuan perjalanan masing-masing. Rammang-Rammang cocok bagi pencinta karst, sungai, sejarah, dan budaya. Andalan serta Ara menarik bagi mereka yang ingin menggabungkan pantai, tebing, gua, dan tradisi Pinisi. Mattabulu lebih cocok untuk suasana dataran tinggi dan hutan pinus, sementara Latimojong menawarkan pengalaman pegunungan dengan tantangan fisik lebih besar. Bontomarannu dapat menjadi pilihan bagi pencinta panorama perbukitan dan camping.
Jarak tempuh juga perlu diperhitungkan, karena desa wisata sering berada jauh dari pusat kota. Sebelum berangkat, penting untuk memeriksa waktu perjalanan, pilihan transportasi, dan ketersediaan penginapan demi kenyamanan liburan.
Dampak Positif Desa Wisata bagi Masyarakat Lokal
Konsep desa wisata memiliki nilai lebih karena melibatkan masyarakat lokal dalam aktivitas pariwisata. Pengelolaan homestay, kuliner, pemandu, kerajinan, atraksi budaya, transportasi lokal, hingga paket wisata dapat menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi warga.
Rammang-Rammang menjadi contoh menarik, di mana data JADESTA mencatat adanya perputaran ekonomi dari aktivitas wisata serta pembagian manfaat kepada pengelola dan masyarakat lokal. Namun, prinsip keberlanjutan menjadi semakin penting seiring meningkatnya jumlah wisatawan. Keindahan alam harus dijaga agar tidak berubah menjadi kerusakan akibat aktivitas yang berlebihan.
Wisatawan juga dapat berkontribusi dengan memilih produk lokal, menggunakan jasa masyarakat setempat, mematuhi aturan kawasan, serta menjaga kebersihan destinasi. Dengan mempertimbangkan penghargaan, kualitas atraksi, keberagaman pengalaman, kesiapan fasilitas, dan keterlibatan masyarakat, Anda dapat menemukan desa wisata terbaik di Sulawesi Selatan yang sesuai dengan karakter perjalanan dan tujuan liburan Anda.